Bogordaily.net – Sutradara asal Kabupaten Bogor membuat bangga kancah perfilman tanah air dengan karya filmnya berjudul “Karaja Sumba”.
Adapun, film dokumenter Karaja Sumba “Ketika Perempuan Berkarya, Sumba Berdaya” resmi menggelar gala premier di CGV FX Sudirman, Jakarta pada Rabu malam, 21 Januari 2026.
Film yang disutradarai Ineu Rahmawati yang merupakan warga Citeureup, Kabupaten Bogor ini mengangkat kisah para mama penenun di Sumba, Nusa Tenggara Timur, yang berjuang keluar dari lingkaran kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) melalui pemberdayaan ekonomi berbasis budaya tenun.
Ineu menjelaskan, latar belakang film ini berangkat dari realitas pahit yang dialami banyak perempuan penenun di Sumba. Menurutnya, tenun tidak hanya soal kain dan budaya, tetapi juga menyimpan cerita tentang kehidupan perempuan yang kerap menghadapi kekerasan.
“Film ini sebenarnya bukan hanya tentang tenun. Tetapi kami cerita di balik tenun itu ada banyak mama penenun yang mengalami KDRT,” kata Ineu usai pemutaran perdana pada Rabu, 22 Januari 2026.
Dalam film ini, sosok Asti seorang perempuan muda asal Sumba menjadi karakter utama. Asti berperan besar dalam memberdayakan para mama penenun agar praktik kekerasan bisa berkurang, sekaligus menjadikan tenun sebagai sumber mata pencaharian yang mandiri.
“Sebenernya ka Asti ini salah satu perempuan Sumba anak muda Sumba yang memberdayakan mama Sumba ini, sehingga praktik dari kekerasan itu bisa berkurang dan mama ini bisa memberdayakan tenun menjadi salah satu mata pencaharian mereka,” jelasnya.
Ineu mengungkapkan proses produksi Karaja Sumba memakan waktu cukup panjang. Total pengerjaan film berlangsung sekitar satu setengah tahun, dengan riset mendalam selama satu tahun penuh.
“Risetnya lama, hampir satu tahun. Produksinya sendiri sekitar dua minggu, lalu pascaproduksi kurang lebih tiga bulan,” ujar Ineu.
Alasan memilih Sumba sebagai latar film juga berangkat dari kegelisahan pribadi sang sutradara. Ia menilai masih banyak masyarakat yang kurang mengenal Sumba dan bahkan kerap menyamakan dengan daerah lain.
“Kalau orang ingat Indonesia, biasanya Bali. Banyak juga yang masih tertukar antara Sumba dan Sumbawa. Dari situ saya merasa Sumba perlu lebih dikenalkan,” tuturnya.
Melalui Karaja Sumba, Ineu ingin menyampaikan banyak pesan, salah satunya tentang kekuatan budaya dan peran perempuan. Tenun, yang sudah diajarkan sejak kecil hingga usia lanjut, menjadi simbol ketekunan dan identitas perempuan Sumba.
“Dari hasil tenun itu, mama-mama ini diberdayakan. Mereka bisa mandiri secara ekonomi, menyekolahkan anak-anaknya, dan berani speak up ketika mengalami KDRT,” katanya.
Tayang di Festival Internasional
Sebagai film dokumenter, Karaja Sumba tidak ditayangkan di bioskop komersial. Film ini lebih difokuskan pada pemutaran komunitas dan festival film.
Sebelumnya, Karaja Sumba telah diputar di beberapa negara, termasuk Bulgaria dan Australia. Di Australia, film ini bahkan mendapat pemutaran khusus di University of Queensland.
“Tahun lalu kami sudah screening di Bulgaria dan dua kali di Australia. Penonton di sana sangat antusias, terutama melihat sisi masyarakat adat,” ungkap Ineu.
Film ini juga dijadwalkan akan mengikuti International Golden Road Film Festival di Istanbul, Turki, pada 9–12 Februari 2026.
Bangga Jadi Filmmaker dari Bogor
Sebagai warga Bogor, Teh Ineu mengaku bangga bisa membawa karya anak daerah ke panggung internasional.
“Aku bangga banget terutama aku sebagai salah satu pemuda Bogor, bangga banget selain mengangkat Bogor saya juga mengangkat daerah lain di kancah Internasional sehingga saya ingin warga Bogor juga mengikuti jejak saya,” jelasnya.
Ia pun berpesan kepada warga Bogor, khususnya generasi muda yang ingin menjadi filmmaker, agar tidak pernah menyerah.
“Sebenernya pesan saya untuk warga Bogor yang ingin menjadi Filmaker, terus membaca dan menonton kuncinya, sebenernya kalo di dokumenter itu kami harus banyak riset, harus peka juga terhadap lingkungan tidak cuma dilingkungan, tetapi kita harus mulai dari diri sendiri juga, baru ke masyarakat luar,” tuturnya.*
(Albin Pandita)

