Bogordaily.net — Ulkus kaki diabetik atau diabetic foot ulcer (DFU) masih menjadi salah satu komplikasi paling berat pada penderita diabetes melitus. Kondisi ini bukan sekadar luka biasa, tetapi dapat berkembang menjadi infeksi berat hingga berujung amputasi jika tidak ditangani secara tepat.
Spesialis Bedah Vaskular dan Endovaskular Konsultan, dr. Budhi Arifin Noor, Sp.B, Subsp.BVE(K) RSUD Kota Bogor, menjelaskan bahwa DFU umumnya muncul akibat kombinasi tiga faktor utama: gangguan aliran darah (iskemia), kerusakan saraf atau neuropati, serta infeksi. “Ketiga faktor ini saling memperberat. Jika tidak ditangani secara komprehensif, risiko komplikasi meningkat tajam,” ujarnya.
Neuropati dan Sirkulasi Buruk Jadi Pemicu Utama
Menurut dr. Budhi, neuropati akibat kadar gula darah yang tinggi dalam jangka panjang membuat kaki penderita diabetes kehilangan sensasi. Akibatnya, luka kecil seperti lecet atau tekanan berlebih sering tidak disadari hingga berkembang menjadi ulkus yang lebih dalam.
Di sisi lain, diabetes juga meningkatkan risiko penyakit arteri perifer (Peripheral Arterial Disease/PAD). Kondisi ini menyebabkan aliran darah ke kaki menurun sehingga suplai oksigen dan nutrisi berkurang. Dampaknya, proses penyembuhan luka menjadi lebih lambat dan tubuh lebih rentan terhadap infeksi.
Faktor tambahan lain yang memperparah risiko antara lain kelainan bentuk kaki, penggunaan sepatu yang tidak sesuai, kebersihan kaki yang buruk, kebiasaan merokok, serta lamanya seseorang menderita diabetes.
Gejala hingga Klasifikasi Luka
Secara klinis, ulkus kaki diabetik biasanya tampak sebagai luka terbuka dengan tepi menebal dan dikelilingi kapalan. Pada fase lanjut, luka dapat menembus hingga jaringan dalam bahkan tulang, disertai tanda infeksi seperti kemerahan, bengkak, bau tidak sedap, hingga keluarnya nanah.
Untuk menentukan tingkat keparahan, dokter menggunakan sistem klasifikasi seperti WIFi (Wound, Ischemia, and foot Infection). Klasifikasi ini menjadi acuan penting dalam menentukan strategi terapi yang paling efektif.
Pemeriksaan Menyeluruh Jadi Kunci
Saat pasien datang dengan keluhan luka kaki, dokter akan melakukan pemeriksaan komprehensif. Mulai dari penilaian aliran darah menggunakan ankle-brachial index*l (ABI) atau USG Doppler, hingga evaluasi fungsi saraf dengan monofilament dan garpu tala.
Jika terdapat dugaan infeksi, sampel jaringan akan diambil untuk pemeriksaan kultur bakteri. Pemeriksaan penunjang seperti rontgen atau MRI juga dilakukan bila dicurigai infeksi tulang (osteomielitis). Selain itu, kontrol kadar gula darah menjadi bagian krusial dalam proses evaluasi.
Strategi Tatalaksana Komprehensif
Penanganan ulkus kaki diabetik tidak bisa dilakukan secara parsial. Pendekatan yang menyeluruh menjadi kunci utama untuk mencegah komplikasi lebih lanjut.
Beberapa langkah utama yang direkomendasikan antara lain:
* Perawatan luka intensif melalui pembersihan rutin, debridement jaringan mati, serta penggunaan balutan modern yang mendukung proses penyembuhan.
* Offloading atau pengurangan tekanan dengan alas kaki khusus atau total contact cast agar area luka tidak terus tertekan.
* Pengendalian infeksi menggunakan antibiotik sesuai tingkat keparahan, mulai dari oral hingga intravena untuk kasus berat.
* Revaskularisasi pada pasien dengan aliran darah buruk, melalui angioplasti, pemasangan stent, atau bedah bypass guna memulihkan sirkulasi.
* Kontrol gula darah ketat melalui pengaturan pola makan, terapi obat, dan pemantauan rutin.
Peran Tim Multidisiplin
Dr. Budhi menegaskan, penanganan DFU idealnya dilakukan oleh tim multidisiplin yang melibatkan ahli bedah vaskular, dokter penyakit dalam, perawat luka, podiatris, hingga tenaga rehabilitasi. Edukasi pasien dan keluarga juga menjadi bagian penting agar perawatan dapat berlanjut di rumah.
Pencegahan Lebih Efektif daripada Pengobatan
Pakar sepakat bahwa pencegahan merupakan strategi paling efektif. Penderita diabetes disarankan rutin memeriksa kondisi kaki setiap hari, menjaga kebersihan, menggunakan alas kaki yang sesuai, serta menjalani kontrol kesehatan secara berkala. Menghentikan kebiasaan merokok dan menjaga tekanan darah juga terbukti menurunkan risiko komplikasi.
Mengacu pada referensi medis seperti *Rutherford’s Vascular Surgery and Endovascular Therapy*, keberhasilan pengobatan ulkus kaki diabetik sangat bergantung pada penanganan menyeluruh terhadap neuropati, gangguan sirkulasi, dan infeksi secara simultan.
Dengan pendekatan yang tepat dan deteksi dini, sebagian besar kasus ulkus kaki diabetik masih dapat ditangani tanpa harus berujung amputasi. Namun, kunci utamanya tetap pada kesadaran pasien untuk aktif menjaga kesehatan kaki dan mengelola diabetes secara optimal.***
