Bogordaily.net – BPI Danantara menggelontorkan dana Rp845 miliar kepada PT Kimia Farma (Persero) Tbk melalui holding PT Bio Farma (Persero) pada akhir 2025.
Suntikan modal ini disebut sebagai langkah korektif untuk memperbaiki struktur permodalan sekaligus membalikkan tren kerugian sampai triliunan rupiah yang menggerogoti perusahaan sejak bergabung dalam holding BUMN Farmasi pada 2020.
Langkah itu bukan sekadar penyelamatan likuiditas, melainkan sinyal restrukturisasi besar. Sekretaris Jenderal Federasi Serikat Pekerja BUMN Indonesia Raya (FSP BUMN IRA), Ridwan Kamil, pada 22 Februari 2026 di Jakarta, menilai kebijakan tersebut menjadi penanda kuat bahwa Kimia Farma tengah disiapkan keluar dari struktur holding Bio Farma, selain alasan tatakelola juga dinilai memiliki model bisnis berbeda. Ke depan, Kimia Farma diproyeksikan berada langsung dibawah kendali Danantara.
Targetnya eksplisit: tingkatkan utilisasi pabrik, tekan harga pokok produksi, dan hadirkan obat dengan harga lebih terjangkau. COO Danantara, Dony Oskaria, juga menegaskan optimalisasi kapasitas produksi sebagai kunci efisiensi dan daya saing. Bahkan, anak usaha ritel, Kimia Farma Apotek, sedang dikaji untuk dipisahkan menjadi entitas mandiri.
Pesannya tegas dan terang: Kimia Farma diberi ruang bernapas. Likuiditas dikucurkan. Transformasi didorong.
Nasib PT Indofarma Tbk: Menggantung di Tengah Janji
Di sisi lain, nasib PT Indofarma Tbk justru berada dalam ruang abu-abu. Hingga kini, kejelasan tambahan modal kerja yang dijanjikan belum terealisasi.
Memang, pada September 2025 Indofarma menerima Rp220 miliar melalui skema Share Holder Loan (SHL). Namun dana tersebut dialokasikan khusus untuk program resizing, menyelesaikan kewajiban kepada karyawan terdampak efisiensi. Artinya, dana itu tidak menyentuh jantung operasional modal kerja untuk menggerakkan produksi dan distribusi.
Padahal, proposal awal yang diajukan manajemen Indofarma mencakup dua paket sekaligus: resizing dan modal kerja sekitar Rp170 miliar. Tanpa injeksi tersebut, operasional tetap tersendat. Lima bulan berlalu sejak efisiensi dilakukan. Pabrik belum bergerak optimal. Arus kas masih rapuh. Komitmen tambahan dana belum cair.
Ironisnya, secara kesiapan administratif dan teknis, Indofarma dinilai telah memenuhi prasyarat: audit dilakukan, struktur biaya dipangkas, langkah efisiensi ditempuh. Namun dukungan yang datang baru separuh.
Di Sinilah Anomali itu Mencolok
Jika Kimia Farma mendapat dukungan penuh untuk bangkit, mengapa Indofarma hanya diberi oksigen sementara? Jika restrukturisasi BUMN Farmasi dimaksudkan sebagai penyelamatan sistemik, mengapa pendekatannya tampak parsial?
“Untuk penyelamatan Indofarma, hingga kini Danantara belum memiliki konsep yang solid dan masih setengah hati,” tegas Ridwan Kamil.
Di tengah narasi besar transformasi dan tata kelola BUMN yang lebih sehat, publik berhak bertanya,
siapa yang benar-benar diselamatkan, dan siapa yang dibiarkan bertahan sendiri di tepi jurang kebangkrutan?
