Bogordaily.net – Pagi itu Sungai Cisadane kembali menjadi saksi. Bukan tentang ikan yang melompat. Bukan pula tentang warga yang mandi. Melainkan tentang seorang bocah 8 tahun yang sempat hilang ditelan arus.
Bocah itu akhirnya ditemukan. Rabu, 4 Februari 2026. Lokasinya di wilayah Gunung Sindur. Jauh dari titik awal ia terseret air. Arus sungai memang tidak pernah berjanji untuk berhenti di satu tempat.
Tim SAR gabungan bekerja sejak awal kabar hilangnya bocah itu beredar. BPBD turun. Basarnas bergerak. Damkar ikut menyisir. Para relawan datang tanpa banyak bicara. Mereka menyusuri tepian sungai, menembus semak, memandangi air yang terus mengalir tanpa rasa bersalah.
Pencarian itu akhirnya berbuah hasil. Tubuh kecil yang dicari-cari itu muncul ke permukaan harapan. Ditemukan. Meski dalam suasana duka, kabar penemuan ini menutup babak pencarian yang melelahkan.
Sungai Cisadane kembali tenang. Tapi cerita hari itu akan tinggal lama di ingatan warga. Tentang arus yang deras. Tentang kerja bersama. Dan tentang betapa rapuhnya manusia di hadapan alam.
Sehari sebelumnya, suasana di bantaran sungai sudah lebih dulu riuh. Selasa, 3 Februari 2026, sejumlah warga berbondong-bondong datang menyaksikan upaya pencarian bocah yang dilaporkan hanyut di aliran Sungai Cisadane. Pantauan di wilayah RT 01/10, Kelurahan Sindangsari, Kecamatan Bogor Barat, Kota Bogor, memperlihatkan kerumunan warga berdiri di tepi sungai. Mereka menatap air yang terus mengalir. Menunggu kabar. Berharap keajaiban.***
