Bogordaily.net – Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor melalui Dinas Kesehatan (Dinkes) menegaskan komitmennya dalam mempercepat eliminasi Tuberkulosis (TBC) tahun 2030. Upaya ini dilakukan melalui penguatan deteksi dini, perluasan investigasi kontak, peningkatan keberhasilan pengobatan, serta kolaborasi lintas sektor.
Kepala Dinkes Kota Bogor, Erna Nuraena menyampaikan bahwa TBC masih menjadi tantangan kesehatan yang serius dan memerlukan keterlibatan seluruh elemen masyarakat.
“TBC bukan hanya persoalan medis, tetapi persoalan sosial. Karena itu, penanganannya tidak bisa dilakukan oleh tenaga kesehatan saja. Kita membutuhkan dukungan keluarga, tokoh masyarakat, dunia usaha, dan media untuk bersama-sama memutus rantai penularan,” ujar Erna dalam keterangannya.
Secara nasional, Indonesia masih menempati peringkat kedua dunia dengan beban TBC tertinggi. Di tingkat provinsi, Jawa Barat menjadi salah satu wilayah dengan jumlah kasus signifikan karena besarnya populasi dan tingginya mobilitas masyarakat.
Berdasarkan data Sistem Informasi Tuberkulosis per Desember 2025, capaian program TBC di Kota Bogor menunjukkan tren positif. Penemuan terduga TBC telah mencapai 116 persen dari target, notifikasi kasus 127 persen, dan penemuan kasus TBC anak 122 persen.
Kadinkes menjelaskan bahwa peningkatan angka tersebut bukan berarti kasus melonjak, melainkan menunjukkan sistem skrining yang semakin efektif. Ia mengatakan bahwa semakin banyak kasus ditemukan, semakin cepat pasien dapat diobati sehingga risiko penularan bisa ditekan.
“Semakin cepat kita menemukan kasus, semakin cepat pula kita mengobati. TBC itu bisa sembuh total, asalkan ditemukan dini dan pasien disiplin minum obat sampai tuntas,” tegasnya.
Meski demikian, ia mengakui masih ada tantangan, terutama dalam cakupan investigasi kontak yang saat ini berada di kisaran 70 persen serta penguatan layanan TBC Resisten Obat (TBC RO).
Dinkes Kota Bogor telah memastikan layanan TBC tersedia secara merata dan gratis di fasilitas kesehatan pemerintah. Seluruh 25 Puskesmas menyediakan layanan TBC termasuk TBC-HIV.
Sementara itu, RSUD Kota Bogor menjadi rumah sakit rujukan untuk penanganan TBC Resisten Obat.
Selain itu, terdapat 15 laboratorium diagnosis TBC yang tersebar di Puskesmas, rumah sakit, dan Labkesda untuk memastikan akses pemeriksaan lebih cepat dan dekat. Erna menegaskan bahwa masyarakat tidak perlu khawatir soal biaya.
“Semua layanan TBC di fasilitas kesehatan pemerintah gratis. Mulai dari pemeriksaan dahak dengan Tes Cepat Molekuler, rontgen, pemeriksaan HIV, sampai obat dan pemantauan selama pengobatan,” jelasnya.
Ia menambahkan, pasien juga mendapatkan pemeriksaan kontak serumah dan Terapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT) bagi yang memenuhi kriteria, termasuk dukungan nutrisi untuk membantu pemulihan.
Dalam mempercepat eliminasi TBC, Pemkot Bogor menjalankan sejumlah inovasi, antara lain: AKSI GEULIS, integrasi skrining TBC dengan cek kesehatan gratis dan penggunaan portable X-ray di komunitas. SIKASEP, strategi peningkatan investigasi kontak dan perluasan TPT. Active Case Finding (ACF) di wilayah berisiko tinggi.
Menurut Erna, pendekatan yang dilakukan tidak hanya berbasis fasilitas kesehatan, tetapi juga berbasis komunitas. Ia menuturkan bahwa pihaknya menerapkan pendekatan ABCDE: Antar ke Puskesmas, Beri dukungan, Cari kontak erat, Dilaporkan bila sembuh, dan Edukasi masyarakat.
“Kami ingin memastikan tidak ada pasien yang putus obat dan tidak ada kontak erat yang terlewat. Eliminasi TBC harus dilakukan sampai ke tingkat kelurahan,” katanya.
Erna mengakui masih ada tantangan berupa tingginya mobilitas penduduk, kepadatan wilayah perkotaan, keterbatasan pembiayaan untuk kasus TBC RO, serta stigma di masyarakat. Ia menekankan bahwa stigma sering kali membuat pasien terlambat memeriksakan diri atau enggan melanjutkan pengobatan.
“TBC bukan aib. Ini penyakit yang bisa disembuhkan. Yang berbahaya justru jika tidak diobati atau berhenti di tengah jalan,” ujarnya.
Dinkes Kota Bogor mengimbau masyarakat untuk segera memeriksakan diri apabila mengalami batuk dua minggu atau lebih, demam lama, keringat malam, atau penurunan berat badan tanpa sebab jelas. Erna berharap seluruh warga Kota Bogor dapat menjadi bagian dari gerakan eliminasi TBC.
“Eliminasi TBC 2030 bukan sekadar target angka. Ini tentang menyelamatkan generasi kita. Jika kita bergerak bersama, saya optimis Kota Bogor bisa bebas TBC,” katanya.***
