Bogordaily.net – Pergeseran tanah disertai longsor terjadi di bagian belakang rumah warga RT 02 RW 03, Kelurahan Tanah Sareal, Kota Bogor pada hari ini Sabtu, 21 Februari 2026.
Petugas Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Bogor, bersama instansi terkait langsung melakukan penanganan untuk mencegah kerusakan lebih parah di Kelurahan Tanah Sareal tersebut.
Berdasarkan pantauan di lokasi, dinding penahan tanah terlihat retak dan menggantung di sisi tangga akses warga.
Struktur bangunan di bagian atas juga mengalami kerusakan pada dinding bata, sementara sebagian atap mulai dibongkar sebagai langkah antisipasi ambruk susulan.
Lurah Tanah Sareal, Irfan Kurniawan, mengatakan kejadian bermula dari laporan warga terkait pergeseran tanah di wilayah perbatasan RT 02, RT 03, dan RT 04. Namun, titik utama longsoran berada di RT 02 RW 03.
“Kami langsung menindaklanjuti laporan tersebut dengan berkoordinasi bersama BPBD dan Disperumkim yang sudah melakukan pengecekan ke lokasi,” ujarnya.
Ia memastikan tidak ada korban jiwa dalam peristiwa ini. Namun, warga terdampak telah diusulkan untuk dipindahkan ke hunian sementara (huntara) melalui program Bantuan Stimulan Tempat Tinggal (BSTT).
“Proses administrasinya saat ini sedang kami teruskan ke Dinas Sosial. Alhamdulillah, tidak ada korban jiwa dalam kejadian ini,” katanya.
Sementara itu, penanganan teknis darurat dilakukan BPBD dengan membongkar bagian atap dan dinding yang menggantung.
Area sisi kiri bangunan rencananya akan dikosongkan dan diratakan untuk mengurangi beban tanah.
“Kami juga dibantu warga untuk mengangkut puing-puing bangunan agar tidak menumpuk di area rawan. Sementara itu, area di sisi kanan bangunan masih relatif aman,” jelas Irfan.
Ia menambahkan, tingkat kerusakan bangunan diperkirakan sekitar 20 persen dari keseluruhan rumah. Bagian yang terdampak paling parah berada di sisi belakang, meliputi dapur dan kamar mandi yang telah ambruk.
Menurutnya, curah hujan tinggi dari malam hingga subuh menjadi pemicu utama longsor. Kondisi diperparah oleh saluran air di area tangga yang tertutup bangunan warga sehingga aliran air tidak berjalan normal.
“Karena air tidak mengalir dengan benar, akhirnya meresap dan menggerus tanah di bawah konstruksi. Padahal secara fisik bangunan ini masih cukup kuat karena memiliki penahan,” tuturnya.
Pemerintah kelurahan mengimbau warga untuk sementara mengosongkan area rawan serta tidak menutup saluran air dengan bangunan pribadi.
“Kami harap ke depan tidak ada lagi penutupan saluran air oleh konstruksi rumah pribadi, karena air yang tertahan bisa masuk ke struktur tanah dan membahayakan bangunan itu sendiri,” pungkasnya.
( Abizar)
