Bogordaily.net – Band metal asal Bogor, Kraken, resmi merilis album penuh kedua mereka yang berjudul Kaliyuga. Album ini menghadirkan narasi utuh tentang kebangkitan, kemarahan, hingga perlawanan terhadap berbagai bentuk penindasan di tengah realitas zaman yang semakin kompleks.
Album Kaliyuga dibuka dengan lagu “Awakening”, yang memperkenalkan karakter musik Kraken yang tegas, agresif, dan sarat distorsi. Dari titik ini, pendengar dibawa memasuki fase kesadaran yang kemudian berkembang menuju konflik batin dan realitas sosial yang semakin brutal melalui lagu “Fatamorgana”.
Judul “Kaliyuga” merefleksikan kondisi zaman yang ditandai oleh kemunduran etika dan moral. Sementara itu, “Kalam Menikam” menggambarkan semangat bertahan dan bangkit di tengah keterpurukan serta tekanan yang terus menghantam.
Kritik terhadap kekuasaan dan manipulasi disampaikan melalui “Manipocalypse” dan “Retorika Tirani”, yang menyoroti rusaknya moral penguasa, penggunaan kata-kata sebagai alat intimidasi, serta praktik manipulatif yang menindas. Intensitas album semakin meningkat lewat “Parade Genosida”, yang menggambarkan kekerasan sistematis, propaganda, dan dominasi kekuasaan.
Di sisi reflektif, “Labirin” menghadirkan tema pencarian makna dan usaha keluar dari lingkaran kesesatan, sementara “Paradigma” mengangkat isu kerakusan manusia dalam mengejar simpati dan kekuasaan. Album ini ditutup dengan “Belati Neraka”, sebuah klimaks gelap yang menegaskan luapan amarah, luka, serta konsekuensi dari dunia yang kehilangan nurani.
Melalui Kaliyuga, Kraken menegaskan album ini sebagai pernyataan sikap terhadap zaman, manusia, dan pentingnya kesadaran di tengah kekacauan.
Tentang Kraken
Kraken adalah band metal asal Bogor yang terbentuk pada 6 Juni 2016. Dengan formasi Borie (vokal), Arie dan Firdi (gitar), Hilman (bass), dan Fahmi (drum), Kraken mengusung musik keras dengan semangat solidaritas, energi, dan konsistensi.
Album debut mereka, Circle of Life (2019), menandai kiprah awal Kraken di skena musik ekstrem Indonesia. Dilanjutkan dengan album kedua, Kaliyuga (2026).***
