Bogordaily.net – Perang Iran – Israel memasuki hari kelima. Bukan hanya rudal yang melesat. Harga minyak pun ikut terbang. Pasar saham bergetar. Dunia seperti menahan napas.
Ledakan terdengar di Teheran. Asap membumbung dari selatan Beirut. Kapal perang karam di perairan Sri Lanka. Peta konflik tak lagi sebatas dua negara. Ia melebar, seperti api yang menemukan angin.
Militer Amerika Serikat mengklaim hampir 2.000 target telah dihantam di Iran sejak awal operasi. Angka itu, menurut laporan The New York Times, hampir dua kali lipat intensitas fase awal invasi Irak tahun 2003. Perbandingan yang membuat bulu kuduk berdiri.
Di Lebanon, sedikitnya enam orang tewas akibat serangan Israel di selatan Beirut. Lebih dari 30.000 warga mengungsi. Kota menjadi sunyi, kecuali sirene dan doa.
Sementara itu, militer Sri Lanka menyelamatkan sekitar 30 awak dari kapal perang Iran yang tenggelam setelah mengirim sinyal darurat. Laut pun ikut menjadi saksi babak baru ketegangan ini.
Perang Iran – Israel kini bukan sekadar adu kekuatan militer. Ia berubah menjadi perdebatan hukum internasional. Perdana Menteri Kanada, Mark Carney, menyebut serangan gabungan Israel dan Amerika Serikat terhadap Iran secara prima facie tampak tidak sejalan dengan hukum internasional.
Berbicara di Sydney, Carney mengaku negaranya tidak diberi pemberitahuan sebelumnya. Tidak diajak. Tidak dilibatkan. Ia bahkan menyampaikan penyesalan atas dukungan awal yang sempat diberikan pemerintahnya. Sebuah perubahan nada yang terasa tajam.
Namun Carney tetap menegaskan satu hal: dunia harus mencegah Iran memiliki senjata nuklir. Di situlah paradoksnya. Menolak cara, tetapi tetap khawatir pada hasil.
Di lapangan, eskalasi tak berhenti. Militer Israel meluncurkan gelombang serangan ke sejumlah target pemerintah di Teheran, termasuk kantor kepresidenan. Iran, melalui Korps Garda Revolusi Islam, membalas dengan sekitar 40 rudal ke target Amerika Serikat dan Israel. Bahasa diplomasi digantikan bahasa balistik.
Israel juga melanjutkan pengeboman di Lebanon selatan—wilayah basis dukungan Hizbullah. Kawasan Timur Tengah kembali seperti bara lama yang disiram bensin.
Yang paling menyentak: laporan tewasnya pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei, dalam serangan Sabtu lalu. Pemakamannya dijadwalkan berlangsung selama tiga hari di Teheran. Nama putranya, Mojtaba Khamenei, disebut-sebut sebagai kandidat pengganti. Suksesi di tengah dentuman bom—situasi yang tidak pernah sederhana.
Perang Iran – Israel juga mengguncang ekonomi global. Harga minyak dan gas melonjak. Serangan terhadap kapal dan fasilitas energi mengganggu navigasi di Teluk. Produksi energi dari Qatar hingga Irak tersendat.
Pasar keuangan tak tahan. Indeks Nikkei 225 di Tokyo turun hampir 4 persen. Kospi di Seoul sempat anjlok lebih dari 8 persen sebelum perdagangan dihentikan. Wall Street diperkirakan dibuka melemah. Uang menjadi gelisah.
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengatakan Angkatan Laut AS siap mengawal kapal tanker melalui Selat Hormuz bila diperlukan. Jalur sempit itu kembali menjadi urat nadi yang menentukan suhu ekonomi dunia.
Lima hari yang mengubah banyak hal. Dari hukum internasional, suksesi politik, hingga harga BBM di pom bensin.
Dan kita tahu, dalam setiap perang, yang paling dulu menjadi korban adalah kepastian.***
