Bogordaily.net – Sabtu sore itu 21 Maret 2026, pintu samping Istana Merdeka terbuka. Prabowo Subianto berdiri di sana. Menyambut tamu yang tidak biasa: Joko Widodo. Presiden ke-7 RI. Datang tidak sendiri. Ada Iriana Jokowi. Ada pula Kaesang Pangarep dan istrinya, Erina Gudono.
Tidak ada protokoler yang kaku. Yang terlihat justru kehangatan.
Mereka masuk bersama. Duduk bersama. Bahkan di satu sofa yang sama.
Itu penting.
Di negeri ini, simbol sering kali lebih keras berbicara daripada pidato panjang. Dua presiden—yang pernah berada di dua sisi kontestasi—kini berbagi ruang, berbagi senyum, berbagi cerita.
Tidak ada teks resmi tentang apa yang dibicarakan. Tapi ekspresi wajah cukup menjelaskan: cair, akrab, tanpa beban.
Putra Presiden, Didit Hediprasetyo, ikut mendampingi. Percakapan berlangsung santai. Seperti keluarga lama yang lama tak bertemu.
Usai itu, tidak ada seremoni berlebihan. Prabowo mengantar hingga keluar. Sebuah gestur sederhana. Tapi penuh makna.
Beberapa jam sebelumnya, suasana serupa juga terjadi.
Kali ini yang datang adalah Presiden ke-6 RI, Susilo Bambang Yudhoyono.
Ia hadir bersama keluarga besar. Ada Agus Harimurti Yudhoyono. Ada Edhie Baskoro Yudhoyono. Anak, menantu, hingga cucu ikut serta. Seragam krem. Rapi. Hangat.
Prabowo menyambut langsung. Tidak di dalam. Tapi di teras samping. Lebih personal. Lebih dekat.
Mereka berjalan berdampingan menuju ruang dalam. Sambil berbincang. Tanpa jarak.
Di pintu masuk, Didit sudah menunggu. Menyambut. Menyalami satu per satu.
Di dalam, sudah ada Gibran Rakabuming Raka dan Selvi Ananda. Lingkaran itu menjadi lengkap: presiden, mantan presiden, wakil presiden, keluarga.
Sebuah potret yang jarang terjadi di banyak negara.
Lebaran memang selalu punya cara sendiri.
Ia melunakkan sekat. Menghapus jarak. Bahkan di level tertinggi kekuasaan.
Di ruang itu, tidak ada lagi rivalitas politik. Tidak ada lagi kampanye. Tidak ada lagi panggung debat.
Yang ada hanya satu: silaturahmi.
Dan mungkin, di situlah kekuatan sebenarnya.***
