Bogordaily.net – RSUD Kota Bogor menegaskan komitmennya dalam meningkatkan standar pelayanan kesehatan bagi masyarakat.
Dibawah kepemimpinan direktur baru, manajemen melakukan pembenahan menyeluruh untuk memperkuat kualitas layanan sekaligus memastikan pengelolaan anggaran berjalan transparan dan akuntabel.
Langkah ini sejalan dengan amanah Pemerintah Kota Bogor agar rumah sakit rujukan milik daerah tersebut semakin profesional dan dipercaya publik.
Kepala Bidang Bisnis dan Mutu RSUD Kota Bogor, dr. Armein S. Rowi, mengatakan pembenahan dilakukan secara bertahap dengan fokus pada peningkatan mutu pelayanan dan pengawasan ketat terhadap penggunaan anggaran.
“Kami diamanahkan oleh Wali Kota Bogor untuk segera memperbaiki setiap kendala di RSUD. Peningkatan pelayanan berjalan beriringan dengan pengawasan anggaran guna mencegah mismanagement. Semua dilakukan secara bertahap,” ujar dr. Armein
Ia menjelaskan bahwa, selain pembenahan internal, RSUD Kota Bogor juga menghadirkan inovasi layanan kesehatan berupa paket Medical Check Up (MCU) untuk masyarakat umum.
Program ini dirancang agar warga mendapatkan layanan pemeriksaan kesehatan yang komprehensif, cepat, dan dengan biaya terjangkau tanpa mengurangi kualitas pelayanan medis.
Manajemen optimistis, kombinasi antara perbaikan sistem internal dan inovasi layanan akan memperkuat posisi RSUD Kota Bogor sebagai rumah sakit rujukan utama di Kota Bogor.
“Komitmen kami jelas, pelayanan harus semakin baik dan memberi manfaat nyata bagi warga Bogor,” tegasnya.
Menanggapi pertanyaan masyarakat terkait pemberian obat yang dilakukan secara bertahap, misalnya untuk tiga hari atau satu minggu meski jadwal kontrol lebih lama, manajemen RSUD menegaskan kebijakan tersebut murni berdasarkan pertimbangan medis dan aspek keselamatan pasien.
Menurut dr. Armein, obat merupakan zat yang harus diawasi secara ketat dampaknya terhadap tubuh.
Pemberian dalam jumlah besar tanpa pemantauan berisiko menimbulkan efek samping, gangguan fungsi organ seperti hati, serta potensi interaksi obat yang tidak diinginkan.
“Obat tidak bisa langsung diberikan dalam jumlah banyak tanpa pengawasan. Kami harus mengamati reaksi pasien, kemungkinan efek samping, serta interaksi dengan obat lain. Itu hanya bisa dilakukan jika pemberian dilakukan secara bertahap,” jelasnya.
Selain alasan medis, sistem bertahap juga mempertimbangkan prosedur klaim BPJS Kesehatan dan upaya mencegah pemborosan obat. Jika pasien sembuh sebelum obat habis, sisa obat berpotensi menumpuk hingga kedaluwarsa.
“Kami ingin mencegah pemborosan. Jangan sampai obat menumpuk dan expired, sementara pasien lain lebih membutuhkan. Karena itu sistemnya bertahap: diberikan beberapa hari, kontrol kembali, jika masih diperlukan baru dilanjutkan,” tegas dr. Armein.
Dengan mekanisme tersebut, dokter dapat mengevaluasi efektivitas terapi sebelum melanjutkan pengobatan berikutnya. Langkah ini dinilai lebih aman, terkontrol, dan berpihak pada keselamatan pasien serta efisiensi pelayanan kesehatan di Kota Bogor.
(Muhammad Irfan Ramadan)
