Bogordaily.net – Ramadhan perlahan mendekati garis tengah. Sepuluh hari pertama telah terlewat dengan sangat cepat. Kita seolah masih terkesima dengan penentuan awal hari puasa yang menghadirkan perdebatan antara ahli hisab dan ahli ru’yah.
Tetiba hari ini sudah masuk ke fase sepuluh hari kedua. Jika sepuluh hari pertama dipenuhi dengan kasih sayang ‘awwaluhu rahmah’, sepuluh hari kedua tersedia pintu ampunan ‘awsatuhu magfirah’.
Semoga kita yang masih banyak melakukan kesalahan dapat mengetuk pintu ampunan sehingga terbebas dari siksa neraka. Amien.
Dalam sebuah kitab yang sangat indah, As-Sirajul Munir fi Maqomati Sayyidil Mursalin, karya ulama Mesir Syaikh Abdussalam Ali Syita, ada satu bagian yang membuat saya terdiam cukup lama.
Ulama asal kota Iskandariyah atau Alexsandria yang belum lama wafat tersebut mengutip nasihat gurunya, Syaikh Abu Al-Ajaim, tentang tiga kata yang mampu menghancurkan manusia.
Tiga kata itu sangat sederhana. Simpel. Sering kita ucapakan juga sering kita dengar. Tiga kata yang sangat familiar di telinga ini memilik daya hancur yang amat kuat.
Ana. Lii. ‘Indi. Saya.
Milik saya. Pada saya.
Tiga kata yang tampak biasa dalam percakapan sehari-hari. Tetapi ketika tumbuh dari tanah kesombongan, ia menjadi racun yang mematikan jiwa.
Pertama kata “Ana” atau saya. Siapa yang tidak pernah mengucapkan kata ini. Mungkin dalam sehari kita bisa mengulangnya lebih dari sepuluh kali.
Ketika bercakap dengan keluarga, teman, kerabat, tamu bahkan orang asing kita sering menggunakan kata ganti orang pertama ini untuk menunjukan diri sendiri.
Saya seorang pegawai. Saya baru pulang dari kantor. Saya membeli motor. Saya ganteng untuk laki-laki, saya cantik untuk perempuan. Dan lain sebaginya. Sangat biasa.
Kata sederhana ini bisa jadi merusak. Sejarah mencatat dengan sangat cermat bagaimana kata sederhana ini merubah seorang ahli ibadah yang diapresiasi penduduk langit menjadi makluk yang terlaknat.
Iblis yang sejatinya golongan jin ahli ibadah menjadi terlaknat karena mengucapkan kata tersebut.
Saat Sang Pencipta memerintahkan seluruh penduduk langit untuk bersujud kepada Adam as, iblis menolak dengan argumen ‘ana khoirun minhu’ . Allah mengabadikan peristiwa ini dalam al-Qur’an, surat Al-A’raf ayat 12;
قَالَ مَا مَنَعَكَ أَلَّا تَسْجُدَ إِذْ أَمَرْتُكَ ۖ قَالَ أَنَا خَيْرٌ مِّنْهُ خَلَقْتَنِي مِن نَّارٍ وَخَلَقْتَهُ مِن طِينٍ
“Dia (Allah) berfirman, “Apakah yang menghalangimu (sehingga) kamu tidak bersujud ketika Aku menyuruhmu?” Ia (Iblis) menjawab, “Aku lebih baik daripada dia. Engkau menciptakanku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah.”
“Ana khairun minhu“. Perkataan Iblis dengan ke-aku-an nya menjadi penyebab kehancuran. Kata Ana yang diucapkan iblis mengandung racun kesombongan. Dia merasa dirinya lebih baik. Dia merasa dirinya lebih mulia. Dia merasa dirinya tidak pantas bersujud kepada makhluk yang lebih rendah darinya.
Satu kalimat.
Satu pembangkangan.
Satu kesombongan.
Iblis tidak jatuh karena kurang ibadah. Ia telah lama beribadah bahkan dikenal sebagai seorang abid atau ahli ibadah seantero langit. Ia jatuh karena satu penyakit; merasa lebih.
Dia membawa asal usulnya sebagai alasan kesombongan. “aku lebih baik dari dia, karena tercipta dari api sedangkan dia dari tanah.”
Betapa sering “ana” menyelinap dalam hidup kita.
“Ana lebih paham.”
“Ana lebih senior.”
“Ana lebih berjasa.”
Padahal begitu “ana” membesar, Allah dikecilkan dalam hati. Naudzubillah min dzalika.
Kedua adalah kata, “Lii” atau Ini Milikku.
Apa salahnya ketika dalam sebuah percakapan kita mengatakan, “Ini rumah saya”, “Itu kendaraan milik saya”, “Dia anak saya”, dan lain sebagainya.
Tentu tidak ada yang salah. Menyatakan kepemilikan sesuai dengan faktanya merupakan sebuah kewajaran. Rumah yang dibangun dari hasil kerja selama bertahun-tahun tentu menjadi rumah milik.
Demikian juga dengan kendaraan dan harta benda lainnya. Namun Ketika kepemilikan menjadi berhala yang menghalangi kita dari menyadari pemberi kekuatan untuk mendapatkannya, kata Lii atau milik saya bisa menjadi awal bencana.
Kata ini pernah diucapkan oleh Firaun.
وَنَادٰى فِرْعَوْنُ فِيْ قَوْمِهٖ قَالَ يٰقَوْمِ اَلَيْسَ لِيْ مُلْكُ مِصْرَ وَهٰذِهِ الْاَنْهٰرُ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِيْۚ اَفَلَا تُبْصِرُوْنَۗ
“Fir‘aun berseru kepada kaumnya (seraya) berkata, “Wahai kaumku, bukankah Kerajaan Mesir itu milikku dan (bukankah) sungai-sungai itu mengalir di bawah (istana-istana)-ku. Apakah kamu tidak melihat?”
Dalam Tafsir Tahlili-nya Nuonline menjelaskan bahwa Fir’aun menyatakan kehebatannya di hadapan rakyat Mesir. Dengan penuh kesombongan dia menyatakan ‘lii mulku misra wa hadzihil anhar tajri min tahti’.
Ini sebagai penegas bahwa dia merupakan raja diraja yang memiliki kuasa penuh atas Mesir. Dia tidak mungkin bisa dilawan apalagi dikalahkan. Sebagai penguasa fir’aun tidak sudi untuk mengikuti seruan Nabi Musa as.
Fir’aun lupa bahwa kekuasaan hanyalah titipan. Mesir yang megah dengan Sungai Nil yang menghidupi masyarakat sekitarnya Adalah ciptaan Allah SWT.
Kata “milikku” membuat manusia lupa asal-usulnya.
Rumah ini milikku.
Jabatan ini milikku.
Organisasi ini milikku.
Pengikut ini milikku.
Padahal kita sendiri bukan milik kita. Nafas yang baru saja kita hirup pun bukan hasil usaha kita. Kata “lii” menipu manusia seakan-akan ia penguasa, padahal ia hanya pengelola sementara.
Kata ketiga “Indi” atau Pada Saya. Ini adalah kalimat sombong yang diucapkan oleh Qarun. Sebagaimana yang kita ketahui dalam sejarah, Qorun adalah salah satu dari umat nabi Musa.
Pada awalnya dia seorang laki-laki miskin yang banyak kekurangan. Dia memohon agar Nabi Musa berdoa kepada Allah untuk menjadikannya seorang kaya dengan harta berlimpah.
Nabi Musa pun menuruti permintaan Qorun yang merupakan salah satu umat yang sangat taat beribadah. Allah mengabulkan doa Nabi Musa. Qorun pun menjadi orang kaya.Namun saat berada di puncak kejayaannya dia lupa.
قَالَ اِنَّمَآ اُوْتِيْتُهٗ عَلٰى عِلْمٍ عِنْدِيْۗ
“Sesungguhnya harta ini aku peroleh karena ilmu yang ada padaku.” (QS Al-Qashash: 78)
Qorun menganggap kekayaannya murni hasil kecerdasannya. Ia lupa siapa yang memberinya kemampuan berpikir.
Ia lupa siapa yang menggerakkan peluang. Ia lupa siapa yang membolak-balikkan takdir.
Berapa banyak dari kita yang tanpa sadar berkata seperti Qarun;
“Saya sukses karena strategi saya.”
“Ini semua hasil kerja keras saya.”
“Tanpa saya, tidak akan jadi seperti ini.”
Dan ketika “pada saya” menjadi pusat segalanya, Allah kembali tersisih dari hati.
Tiga kata itu “ana, lii, ‘indi” menghancurkan tiga tokoh besar dalam sejarah kehidupan: Iblis, Fir’aun, dan Qarun.
Ketiganya tidak binasa karena kurang ibadah atau kurang ilmu. Mereka binasa karena kehilangan kerendahan hati. Mereka dibutakan oleh kesombongan.
Sebuah penyakit yang sangat kronis. Racun yang menggerogoti hati seperti ulat memakan dau hijau.
Barangkali kita tidak pernah mengucapkan kalimat seangkuh mereka. Namun mungkin, dalam ruang batin yang paling sunyi, kita pernah merasakannya.
Maka jalan keselamatan adalah membalik arah hati:
Dari ana (aku) menjadi Anta ya Allah (Engkau ya Allah).
Dari lii (milikku) menjadi Laka ya Allah (milik-Mu ya Allah).
Dari ‘indi (pada saya) menjadi Minka ya Allah (dari-Mu ya Allah).
Semakin seseorang merasa kecil di hadapan Allah, semakin ia dijaga dari kehancuran. Dan mungkin inilah makna terdalam dari tawadhu.
Bukan merendahkan diri secara palsu, tetapi menyadari bahwa semua yang kita miliki hanyalah titipan.
Seperti seorang juru parkir di depan sebuah swalayan. Dia menyambut setiap kendaraan yang datang, baik motor ataupun mobil.
Dia menjaga semua kendaraan yang ada di dalam area pengawasannya. Tapi ketika satu persatu kendaraan itu pergi untuk meninggalkannya dia tetap tersenyum. Semuanya titipan. Innalillahi wainnailahi rajiun. ***
