Bogordaily.net – Ketegangan di salah satu jalur pelayaran paling vital di dunia kembali meningkat. Memasuki hari kedua blokade yang diterapkan oleh Amerika Serikat, sejumlah kapal tanker pengangkut minyak dilaporkan tertahan dan tidak dapat melanjutkan perjalanan di Selat Hormuz pada Selasa 14 April 2026.
Berdasarkan pantauan udara dan citra satelit, antrean kapal tanker terlihat mengular di titik sempit selat tersebut. Meski demikian, pihak Washington menegaskan bahwa langkah ini bukan penutupan total jalur internasional.
Melalui pernyataan resmi, Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) menjelaskan bahwa operasi yang dilakukan merupakan blokade selektif dengan sasaran utama kapal-kapal yang menuju atau meninggalkan pelabuhan di Iran.
Sementara itu, kapal dengan tujuan negara-negara Teluk seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Kuwait diklaim tetap diizinkan melintas.
Operasi ini disebut bertujuan untuk menekan arus perdagangan energi Iran sebagai bagian dari pengetatan sanksi ekonomi.
Namun, meskipun bersifat selektif, keberadaan kapal perang AS yang melakukan inspeksi ketat menyebabkan perlambatan signifikan pada lalu lintas maritim.
Dampaknya, antrean panjang kapal tidak dapat dihindari di jalur yang menjadi urat nadi distribusi energi global tersebut.
Para analis energi mulai mengkhawatirkan dampak lanjutan terhadap pasar minyak dunia. Gangguan di Selat Hormuz, yang memasok hampir seperlima kebutuhan minyak global, berpotensi memicu kenaikan harga akibat sentimen pasar dan ketidakpastian geopolitik.
Seorang pakar geopolitik Timur Tengah menilai langkah ini sebagai sinyal kuat dari Washington kepada Teheran, namun juga membawa risiko eskalasi militer di kawasan yang sangat sensitif.
Hingga berita ini diturunkan, pemerintah Iran belum memberikan tanggapan resmi terkait langkah yang dilakukan AS di perairan tersebut.
Sementara itu, sejumlah negara importir minyak di kawasan Asia mulai meningkatkan kewaspadaan dan memantau situasi secara ketat guna mengantisipasi potensi gangguan pasokan.
Blokade ini menandai babak baru dalam ketegangan antara Washington dan Teheran, yang kini tidak hanya berlangsung melalui kebijakan sanksi, tetapi juga telah merambah ke tindakan langsung di jalur pelayaran strategis dunia.***
