Bogordaily.net – Penipuan calon pengantin terjadi lagi, Wedding Organizer (WO) bernama Kamuya digeruduk warga di Mojokerto.
Sebuah rumah bergaya klasik di kawasan Suromulang Timur 1, Kamis itu, puluhan calon pengantin datang bukan untuk merancang pesta. Mereka datang menagih janji.
Pemilik WO Kamuya, PA, 26 tahun, akhirnya duduk di hadapan mereka. Juga di hadapan Wakil Wali Kota Surabaya, Armuji. Tidak banyak pilihan yang tersisa. Ia memilih satu: menjual rumahnya sendiri.
Rumah itu—kata para korban—ditaksir sekitar Rp 1,4 miliar. Tapi akan dilepas cepat. Hanya Rp 750 juta. Jauh di bawah harga pasar. Demi satu tujuan: refund.
Angkanya tidak kecil. Kerugian 29 pasangan mencapai Rp 680 juta hingga Rp 700 juta. Uang yang seharusnya menjadi awal kehidupan baru. Justru berubah menjadi beban.
PA mengaku. Manajemen keuangannya runtuh sejak 2022. Ia memakai pola lama: gali lubang, tutup lubang. Uang klien baru menutup utang lama. Begitu seterusnya. Sampai lubangnya terlalu dalam.
Utangnya sendiri sebenarnya tidak besar di awal. Sekitar Rp 50 juta. Tapi bunganya mencekik—Rp 9 juta per bulan. Ia sudah membayar Rp 150 juta. Namun tetap minus.
Itu bukan bisnis. Itu jerat.
Dalam mediasi, PA bahkan pasrah. Silakan cek rumahnya. Silakan laporkan. Ia merasa tidak punya apa-apa lagi—selain rumah itu.
Sertifikat rumah kini dijadikan jaminan. Diawasi bersama oleh korban dan pihak berwenang. Sebuah langkah yang terlambat, tapi tetap penting.
Kasus WO Kamuya ini memang punya pola. Mereka agresif di pameran pernikahan. Di pusat perbelanjaan ternama. Delta Plaza Surabaya. Sunrise Mall Mojokerto.
Calon pengantin digoda paket murah. Bonus besar. Tapi ada syarat: harus lunas di tempat.
Di situlah jebakannya.
Tiga hari sebelum acara—H-3—datang kabar buruk. Pembatalan sepihak. Alasan klasik: dana habis. Vendor belum dibayar.
Bayangkan paniknya calon pengantin. Acara tinggal hitungan hari. Mereka terpaksa keluar uang lagi. Puluhan juta. Demi menyelamatkan hari yang seharusnya paling bahagia.
Armuji—yang dikenal tegas—tidak bisa menyembunyikan kekesalannya. Ia langsung memberi peringatan keras.
“Jangan mengadakan pameran lagi. Setop,” katanya.
Itu penting. Karena jika tidak dihentikan, korban baru akan terus muncul.
Namun langkah hukum tetap berjalan. Para korban sudah melapor ke Polrestabes Mojokerto sejak 29 Maret 2026.
Kasus ini menjadi pelajaran mahal. Terutama bagi mereka yang sedang merencanakan pernikahan. Harga murah tidak selalu berarti hemat. Kadang justru sebaliknya.
Kini semua bergantung pada satu hal: apakah rumah itu benar-benar laku. Dan kapan uang para korban kembali.
Sebab bagi mereka, ini bukan sekadar uang.
Ini tentang kepercayaan. Yang sudah terlanjur runtuh.***
