Bogordaily.net – SPBE Cimuning terbakar hebat pada Rabu malam. Api bukan sekadar api. Ia menjulang. Ia seperti ingin menyapa langit Kota Bekasi—mewarnainya jingga kemerahan.
Video yang beredar cepat di media sosial memperlihatkan itu. Kobaran tinggi. Suara gaduh. Warga menjauh. Tidak ada yang berani mendekat. Naluri menyelamatkan diri bekerja lebih cepat daripada rasa ingin tahu.
“Terjadi ledakan dan kebakaran di SPBE Cimuning [PT Indogas Andalan Kita],” tulis sebuah akun media sosial, sekitar pukul 21.15 WIB.
Ledakan itu—kalau benar terjadi—menjadi titik awal kepanikan. Api langsung membesar. Tidak memberi ruang kompromi.
SPBE Cimuning terbakar hebat—dan pemadam kebakaran pun berpacu dengan waktu. Tak lama setelah laporan muncul, armada damkar tiba di lokasi. Selang digelar. Air ditembakkan. Api dilawan.
Tapi api bukan lawan yang mudah ditundukkan. Hingga pukul 23.30 WIB, kobaran itu belum sepenuhnya jinak. Masih menyala. Masih mengancam.
Di tengah situasi itu, suara resmi akhirnya muncul.
Area Manager Communications, Relations & CSR PT Pertamina Patra Niaga Regional Jawa Bagian Barat, Susanto August Satria, membenarkan insiden tersebut. Ia juga menyampaikan permintaan maaf.
“Pertamina Patra Niaga Regional Jawa Bagian Barat (RJBB) memohon maaf atas insiden yang terjadi di Stasiun Pengisian Bulk Elpiji (SPBE) PT Indogas Andalan Kita,” tulisnya dalam keterangan tertulis.
Koordinasi langsung dilakukan. Tidak ada waktu untuk saling menyalahkan. Pertamina, pihak SPBE, dan tim pemadam kebakaran bergerak bersama. Fokusnya satu: memadamkan api.
SPBE Cimuning terbakar hebat—dan peristiwa ini kembali mengingatkan satu hal penting: fasilitas energi adalah titik rawan. Sekali terjadi gangguan, dampaknya bisa luas. Bukan hanya soal api. Tapi juga rasa aman warga di sekitarnya.
Malam itu, warga Cimuning belajar lagi. Bahwa dalam hitungan menit, situasi bisa berubah drastis. Dari biasa—menjadi luar biasa mencekam.***
