Friday, 24 April 2026
HomeEkonomiNilai Tukar Rupiah Loyo di Rp17.300-an, Defisit & Harga Minyak Jadi Sorotan

Nilai Tukar Rupiah Loyo di Rp17.300-an, Defisit & Harga Minyak Jadi Sorotan

Bogordaily.net – Nilai tukar rupiah kembali menunjukkan pelemahan signifikan pada perdagangan Kamis siang. Hingga pukul 13.32 WIB, rupiah tercatat turun 123 poin atau 0,72% ke level Rp17.304 per dolar AS, dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp17.181 per dolar AS.

Pelemahan nilai tukar rupiah ini dinilai dipicu kombinasi sentimen eksternal dan internal yang semakin menekan stabilitas mata uang domestik.

Pengamat ekonomi mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, menjelaskan bahwa faktor eksternal utama berasal dari meningkatnya ketegangan geopolitik setelah gagalnya perundingan antara Amerika Serikat dan Iran. Pertemuan yang difasilitasi Pakistan disebut tidak membuahkan hasil karena Iran menolak hadir, menyusul tindakan AS yang dinilai melanggar kesepakatan gencatan senjata.

“Iran tidak ikut dalam perundingan karena AS dianggap melanggar aturan dengan menangkap kapal tanker Iran di Selat Hormuz,” ujarnya dalam keterangan di Jakarta.

Situasi tersebut memperbesar risiko konflik berkepanjangan, terlebih Iran disebut tidak lagi mempercayai AS. Di sisi lain, AS mendorong kesepakatan sepihak terkait pengelolaan Selat Hormuz dan penghentian pengayaan uranium, yang ditolak Iran karena dianggap melanggar kedaulatan.

Dari sisi domestik, tekanan terhadap rupiah juga datang dari lonjakan harga minyak dunia. Harga minyak Brent kini menyentuh 103 dolar AS per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) berada di level 98 dolar AS per barel. Kondisi ini berpotensi memperlebar defisit anggaran Indonesia, mengingat tingginya ketergantungan impor energi.

Indonesia diketahui membutuhkan sekitar 1,5 juta barel minyak impor per hari, dari total kebutuhan 2,1 juta barel per hari. Kondisi ini diperparah dengan tertahannya kapal tanker milik Pertamina di Selat Hormuz akibat konflik kawasan.

Selain itu, beban fiskal juga meningkat akibat utang pemerintah yang mendekati jatuh tempo dalam jumlah besar. Kebijakan pemerintah yang tidak menaikkan harga BBM subsidi seperti Pertalite turut memperbesar tekanan anggaran.

“Subsidi akan semakin besar, sehingga pemerintah harus mencari tambahan anggaran dari kementerian lain. Ini berisiko memperlebar defisit,” kata Ibrahim.

Dana Moneter Internasional (IMF) sebelumnya juga telah mengingatkan agar Indonesia mengurangi ketergantungan terhadap subsidi untuk menjaga stabilitas ekonomi, termasuk nilai tukar rupiah.

Dalam APBN 2026, asumsi harga minyak ditetapkan sebesar 70 dolar AS per barel dengan batas maksimal 92 dolar AS. Namun, lonjakan harga minyak akibat konflik geopolitik membuat asumsi tersebut meleset jauh. Target kurs rupiah sebesar Rp16.500 per dolar AS pun kini telah terlampaui, dengan posisi aktual di kisaran Rp17.300.

Melihat tren tekanan yang masih kuat, Ibrahim memproyeksikan pelemahan rupiah masih akan berlanjut dalam waktu dekat.

“Kemungkinan besar di akhir April atau minggu depan, rupiah bisa menembus level Rp17.400 per dolar AS,” ujarnya.***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here