Monday, 20 April 2026
HomeOpiniTeknologi: Alat Pembebasan atau Mesin Isolasi? Dua Wajah dalam Satu Layar

Teknologi: Alat Pembebasan atau Mesin Isolasi? Dua Wajah dalam Satu Layar

Oleh: M. Rizky Kurniawan, Forum Akar Rumput Indonesia

DI tangan yang tepat, teknologi adalah alat pembebasan. Ia mempercepat kerja, membuka akses pengetahuan, dan memperluas jejaring sosial lintas batas.

Namun di tangan yang rapuh—atau dalam sistem yang eksploitatif teknologi menjelma menjadi ruang isolasi yang sunyi, repetitif, dan adiktif. Ia tidak lagi sekadar alat, melainkan lingkungan hidup baru yang perlahan menyerap kesadaran penggunanya.

Paradoks ini bukan asumsi moral, melainkan realitas empiris. Dunia klinis sendiri masih tertatih mengejar fenomena ini. Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders, Fifth Edition (DSM-5) memang belum mengakui “kecanduan gawai” sebagai diagnosis mandiri, tetapi telah memasukkan Internet Gaming Disorder (IGD) sebagai kondisi yang memerlukan kajian lebih lanjut. Kriteria IGD seperti kehilangan kendali, toleransi, gejala putus, hingga dampak sosial—secara luas diadopsi untuk membaca perilaku adiktif berbasis teknologi (American Psychiatric Association, 2013).

Masalahnya bukan pada teknologi itu sendiri, melainkan pada relasi yang dibangun dengannya. Ketika teknologi digunakan untuk mencapai tujuan yang jelas, ia memperkuat kapasitas manusia. Namun ketika ia menjadi sarana pelarian dari stres, kecemasan, atau kesepian, maka yang terbentuk adalah ketergantungan perilaku (behavioral addiction).

Fenomena live streaming memperjelas pergeseran ini. Tidak seperti konsumsi konten pasif, live streaming menawarkan interaksi real-time, Ketika komentar dibalas, identitas diakui, bahkan hadiah virtual ditukar dengan perhatian.

Ini menciptakan ilusi relasi sosial yang intens, tetapi seringkali timpang. Pengguna merasa “terhubung”, padahal yang terjadi adalah keterikatan satu arah yang dikendalikan algoritma.

Secara neuropsikologis, sistem ini bekerja melalui variable reward mechanism sebuah pola imbalan tidak pasti yang terbukti sangat adiktif (Montag et al., 2019). Tidak semua konten menarik, tetapi justru ketidakpastian itulah yang membuat pengguna terus bertahan. Mekanisme yang sama ditemukan dalam perjudian. Korelasi antara penggunaan teknologi berlebihan dan gangguan mental bukan lagi spekulasi. Sejumlah studi menunjukkan hubungan signifikan antara penggunaan smartphone yang problematik dengan depresi, kecemasan, dan stres (Elhai et al., 2017; Kim et al., 2019). Dalam banyak kasus, teknologi berfungsi sebagai alat self-medication: digunakan untuk meredakan tekanan psikologis, tetapi justru memperkuat siklus ketergantungan.

Fenomena seperti nomophobia yaitu ketakutan berlebihan saat jauh dari ponsel, hal ini menunjukkan bahwa ketergantungan ini telah melampaui fungsi praktis. Ia masuk ke ranah emosional dan eksistensial. Ketika absennya perangkat memicu kecemasan, iritabilitas, bahkan disfungsi kognitif, maka yang hilang bukan sekadar alat, melainkan “penopang psikologis semu”.

Narasi populer sering menyederhanakan masalah ini sebagai kurangnya disiplin individu. Namun pendekatan ini menutup mata terhadap faktor struktural. Platform digital modern dirancang dalam kerangka ekonomi perhatian (attention economy), di mana durasi keterlibatan pengguna menjadi komoditas utama (Zuboff, 2019). Algoritma tidak netral. Ia belajar dari perilaku pengguna, mengidentifikasi kerentanan, dan menyajikan konten yang memaksimalkan keterikatan. Tidak ada “titik selesai” yang ada hanya transisi tanpa henti dari satu konten ke konten berikutnya. Dalam konteks ini, pengguna bukan lagi subjek, melainkan objek dari sistem yang dirancang untuk mempertahankan perhatian selama mungkin.

Teknologi memang menawarkan efisiensi dan konektivitas. Namun tanpa kesadaran kritis dan regulasi yang memadai, ia berpotensi menggerus otonomi manusia secara perlahan.
Kita dihadapkan pada pilihan yang tidak sederhana: menggunakan teknologi sebagai alat untuk hidup, atau tanpa sadar hidup di dalam teknologi.

Perbedaannya tipis, tetapi konsekuensinya fundamental. Dan mungkin, pertanyaan paling jujur yang perlu diajukan hari ini bukan lagi “seberapa sering kita menggunakan gadget?”, melainkan: apakah kita masih memegang kendali, atau justru sedang dikendalikan?.***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here