Bogordaily.net – Tempat wisata di Parung Bogor itu ternyata tidak selalu soal sawah dan jalan kampung. Ada yang berbeda di Rumah Joglo Jati Ombo. Tiap akhir pekan, orang-orang datang berombongan. Parkiran penuh. Jalan masuk sesak. Libur memang selalu punya cerita.
Di sinilah wajah lain tempat wisata di Parung Bogor diperlihatkan. Bukan sekadar hijau dan sunyi. Tapi juga warna. Juga budaya. Bahkan dua budaya sekaligus: Jawa dan Tionghoa. Disatukan dalam satu halaman joglo.
Rumah joglo berdiri kokoh. Tapi ornamen-ornamen merah khas Tionghoa menyelinap di sana-sini. Lampion. Ukiran. Sentuhan yang tidak biasa untuk ukuran wisata pedesaan di Bogor.
Orang datang bukan hanya untuk duduk. Mereka datang untuk berfoto. Itu yang paling ramai. Topi anyaman bambu dipakai. Balon udara jadi latar. Senyum dipasang. Kamera bekerja tanpa henti.
Harga tiketnya sederhana. Rp15 ribu saat libur. Rp10 ribu di hari biasa. Tidak mahal. Bahkan terasa murah untuk ukuran destinasi yang “Instagramable”. Pengunjung juga bisa menyewa pakaian adat. Jawa atau Tionghoa. Difoto. Dicetak langsung. Pulang bawa kenangan.
Di sudut lain, ada kafe kecil. Menyajikan kopi. Juga makanan khas Jawa. Tidak mewah. Tapi cukup. Orang duduk santai. Anak-anak berlarian. Ada kolam mandi bola. Riuh, tapi hangat.
Santi, dari Tangerang Selatan, sudah lima kali datang. Ia tidak bosan. “Tempatnya nyaman. Banyak spot foto. Murah juga,” katanya. Ia menyukai satu hal: perpaduan budaya itu. Jarang ada di tempat lain.
Pengelola, Muhammad Syaifudin, tahu betul kapan puncaknya. Akhir pekan. Hari libur. Bisa 3.000 orang sehari. Dari Bogor. Dari Jakarta. Dari Tangerang. Mereka datang membawa rasa penasaran.
Ia tidak ingin berhenti di sini. Spot foto akan ditambah. Area santai diperluas. Pengalaman harus terus diperbaiki.
Begitulah tempat wisata di Parung Bogor sekarang. Tidak lagi sekadar pelarian dari kota. Tapi juga ruang pertemuan budaya. Yang sederhana. Yang dekat. Tapi punya cerita.***
