Thursday, 9 April 2026
HomeNasionalUtang Pinjol Tembus Rp100 Triliun, Risiko Kredit Macet Ikut Meningkat

Utang Pinjol Tembus Rp100 Triliun, Risiko Kredit Macet Ikut Meningkat

bogordaily.net – Utang masyarakat Indonesia melalui layanan pinjaman online (pinjol) atau peer-to-peer (P2P) lending terus menunjukkan lonjakan signifikan. Hingga Februari 2026, total outstanding pinjaman tercatat telah mencapai Rp100,69 triliun.

Berdasarkan laporan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), angka tersebut tumbuh 25,75 persen secara tahunan (year-on-year/yoy).

Kenaikan ini mencerminkan tingginya ketergantungan masyarakat terhadap layanan pembiayaan berbasis digital.

Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan OJK, Agusman, mengungkapkan bahwa secara bulanan pun angka utang pinjol terus meningkat.

Pada Januari 2026, total pinjaman masih berada di angka Rp98,54 triliun, kemudian naik sebesar Rp2,15 triliun pada Februari 2026.

“Outstanding pembiayaan pinjaman daring per Februari 2026 tumbuh 25,75 persen secara tahunan dengan nominal mencapai Rp100,69 triliun,” ujar Agusman dalam konferensi pers, Senin (6/4/2026).

Namun, di balik pertumbuhan tersebut, risiko kredit macet juga mengalami kenaikan. Tingkat wanprestasi atau TWP90 tercatat berada di level 4,54 persen pada Februari 2026, meningkat dibandingkan Januari yang berada di angka 4,38 persen.

“Tingkat risiko kredit secara agregat atau TWP90 berada di posisi 4,54 persen,” jelasnya.

Selain sektor pinjol, OJK juga mencatat pertumbuhan pesat pada industri pergadaian. Hingga Februari 2026, pembiayaan di sektor ini melonjak 61,78 persen secara tahunan menjadi Rp152,4 triliun.

Mayoritas penyaluran dana berasal dari produk gadai dengan nilai mencapai Rp126 triliun atau sekitar 83,01 persen dari total pembiayaan.

Seiring peningkatan pembiayaan tersebut, total aset industri pergadaian juga mengalami kenaikan, dari Rp171,07 triliun pada Januari menjadi Rp182,71 triliun pada Februari 2026.

Sementara itu, sektor modal ventura mencatat pertumbuhan yang relatif moderat. Pembiayaan pada Februari 2026 hanya naik 0,78 persen secara tahunan menjadi Rp16,46 triliun.

Meski demikian, total aset industri ini tetap meningkat hingga mencapai Rp27,63 triliun.

Secara keseluruhan, kondisi ini menunjukkan tren meningkatnya kebutuhan pembiayaan masyarakat melalui berbagai sektor keuangan, baik digital maupun konvensional, di tengah dinamika ekonomi yang terus berkembang.***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here