Saturday, 2 May 2026
HomeNasionalFenomena Anak Putus Sekolah di Jawa Barat, Gadget Jadi Penyebabnya

Fenomena Anak Putus Sekolah di Jawa Barat, Gadget Jadi Penyebabnya

bogordaily.net – Masalah anak putus sekolah di Bandung dan berbagai wilayah di Jawa Barat kembali menjadi sorotan publik. Selama ini, faktor ekonomi kerap dianggap sebagai penyebab utama, namun realitas di lapangan menunjukkan gadget yang jadi penyebabnya.

Kepala Dinas Pendidikan Jawa Barat, Purwanto, menegaskan bahwa tingginya angka putus sekolah dipengaruhi banyak faktor.

Selain kondisi ekonomi keluarga, ada juga persoalan akses pendidikan, lingkungan sosial, hingga budaya yang turut memengaruhi keputusan anak untuk berhenti sekolah.

“Persoalan putus sekolah itu multidimensi. Tidak hanya soal biaya, tetapi juga budaya dan lingkungan sosial anak,” ujar Purwanto.

Ia mengungkapkan, tidak sedikit anak yang sebenarnya sudah mendapatkan bantuan pendidikan dari pemerintah mulai dari biaya sekolah, seragam, hingga tempat tinggal namun tetap memilih tidak melanjutkan pendidikan.

Salah satu penyebabnya adalah perubahan pola pikir anak yang lebih tertarik pada penghasilan instan.

Sebagian anak bahkan memilih bekerja di jalanan atau mengamen karena bisa memperoleh uang harian sekitar Rp50 ribu hingga Rp150 ribu.

Kondisi ini membuat sekolah terasa kurang menarik, terutama bagi mereka yang sudah terbiasa mendapatkan uang sendiri.

Di sisi lain, fenomena kecanduan gadget juga mulai menjadi perhatian serius. Anak-anak dan remaja yang terlalu fokus pada dunia digital cenderung kehilangan minat belajar, sehingga berisiko tinggi meninggalkan bangku sekolah.

Masalah akses pendidikan juga belum sepenuhnya teratasi. Di beberapa daerah, jarak sekolah yang jauh serta minimnya sarana transportasi menjadi kendala nyata.

Hal ini membuat sebagian anak kesulitan untuk tetap bersekolah secara konsisten.

Data dari DPRD Jawa Barat mencatat jumlah anak tidak sekolah atau putus sekolah mencapai 658.831 anak. Dari jumlah tersebut, sekitar 246.798 anak berada dalam kewenangan Pemerintah Provinsi Jawa Barat.

Angka yang cukup besar ini mendorong pemerintah daerah untuk mengambil langkah cepat.

Salah satunya melalui penyediaan anggaran sekitar Rp25 miliar untuk program beasiswa bagi siswa dari keluarga miskin ekstrem, khususnya di jenjang SMA.

Program ini diharapkan dapat membantu kebutuhan pendidikan sekaligus kebutuhan pribadi siswa, sehingga mereka bisa tetap melanjutkan sekolah tanpa hambatan berarti.

“Kami ingin secara bertahap anak-anak yang putus sekolah bisa kembali masuk sekolah,” kata Purwanto.

Kasus anak putus sekolah juga kembali mencuat setelah kisah seorang siswa SMP bernama Ihsan dari Sumedang viral di media sosial. Ia terpaksa berhenti sekolah karena keterbatasan ekonomi keluarga.

Peristiwa ini mendapat perhatian langsung dari Wakil Gubernur Jawa Barat, Erwan Setiawan, yang memastikan biaya pendidikan Ihsan akan ditanggung hingga lulus.

Kejadian tersebut menjadi pengingat bahwa persoalan pendidikan di Jawa Barat masih menjadi pekerjaan rumah besar.

Dibutuhkan kolaborasi antara pemerintah, keluarga, dan masyarakat untuk memastikan setiap anak mendapatkan haknya dalam mengenyam pendidikan secara layak.***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here