Bogordaily.net – Siswa SD di Tulungagung terpapar radikalisme. Kalimat itu terdengar berat. Terlalu berat untuk anak kelas 6 sekolah dasar yang seharusnya sibuk menghafal perkalian atau berdebat soal hero favorit di Mobile Legends.
Tetapi dunia digital memang tidak pernah benar-benar ramah pada anak-anak.
Di Kabupaten Tulungagung, seorang bocah SD justru masuk ke lorong gelap yang tidak pernah dibayangkan orang tuanya. Awalnya biasa saja. Bermain game online seperti Free Fire, Roblox, hingga Mobile Legends. Lalu datang percakapan-percakapan asing. Dari ruang obrolan game, anak itu diarahkan masuk ke grup Telegram. Di situlah bibit doktrin mulai ditanam.
Pelan-pelan.
Nyaris tanpa suara.
Pihak Unit Pelaksana Teknis Perlindungan Perempuan dan Anak (UPT PPA) Tulungagung menyebut anak tersebut mulai terpapar konten radikal dan jaringan terorisme internasional. Beruntung, jejak aktivitas digitalnya lebih dulu terdeteksi pemantauan siber dari Badan Nasional Penanggulangan Terorisme dan Densus 88 Antiteror sebelum proses doktrin berjalan lebih jauh.
Kepala UPT PPA Tulungagung, Dwi Yanuarti, mengatakan anak itu sebenarnya masih berada pada tahap awal paparan. Namun arah perjalanannya sudah terlihat mengkhawatirkan.
Anak tersebut diketahui cukup fasih berbahasa Inggris. Kemampuan itu justru membuatnya mudah berinteraksi dengan jaringan luar negeri. Ia juga aktif mengunggah video bernuansa kekerasan di TikTok. Dari sana, ketertarikan kelompok radikal muncul. Anak itu kemudian dimasukkan ke beberapa grup WhatsApp berbeda.
Kasus siswa SD di Tulungagung terpapar radikalisme ini akhirnya membuka mata banyak pihak: ancaman perekrutan kini tidak lagi datang lewat ceramah tertutup atau pertemuan rahasia. Semuanya bisa masuk melalui layar ponsel.
Melalui game.
Melalui media sosial.
Melalui notifikasi yang tampak biasa.
Sejak Desember 2025, proses deradikalisasi mulai dilakukan. Pendampingan psikologis, edukasi kebangsaan, hingga pemulihan sosial dijalankan perlahan. Pada awalnya, sang anak disebut sangat tertutup. Ia enggan menatap lawan bicara. Bahkan memilih menunduk ketika bertemu orang lain.
Namun perubahan mulai terlihat.
Kini ia mulai kembali ceria. Sudah mau berbicara dengan lingkungan sekitar. Sudah bisa tertawa lagi seperti anak-anak seusianya.
Yang menarik, UPT PPA tidak memilih jalan melarang game sepenuhnya. Mereka justru mengarahkan kegemaran anak itu ke jalur yang lebih sehat: esports.
Ia mulai diikutkan dalam berbagai turnamen game. Bakatnya diarahkan menjadi prestasi, bukan pintu masuk propaganda. Pendekatan ini dianggap lebih efektif dibanding sekadar menyita gawai atau memarahi anak.
Karena masalah utamanya bukan game.
Melainkan siapa yang berbicara di balik game itu.
Kasus siswa SD di Tulungagung terpapar radikalisme juga menjadi alarm keras bagi para orang tua. Banyak keluarga merasa anak aman karena hanya bermain di kamar. Padahal, dunia digital membuat kamar kecil bisa terhubung dengan jaringan mana pun di seluruh dunia.
UPT PPA Tulungagung mengingatkan pentingnya pengawasan aktivitas digital anak. Orang tua diminta mulai memperhatikan kebiasaan anak yang terlalu tertutup dengan ponsel, rutin memeriksa aplikasi percakapan seperti Telegram atau WhatsApp, serta tidak sembarangan memberikan akses akun pribadi kepada anak.
Sebab di era sekarang, ancaman tidak selalu datang dari jalanan.
Kadang justru datang dari permainan yang terlihat paling menyenangkan.***
