Bogordaily.net – Dinas Kesehatan Kota Bogor memastikan hingga 11 Mei 2026 belum ditemukan kasus hantavirus di wilayah Kota Bogor. Pernyataan itu disampaikan menyusul hebohnya temuan kasus hantavirus di Kapal Ekspedisi MV Hondius yang dilaporkan menginfeksi delapan orang dan menyebabkan tiga kematian.
Dalam keterangan resminya, Kepala Dinas Kesehatan Kota Bogor, dr. Erna Nuraena, mengatakan penyakit hantavirus merupakan zoonosis yang ditularkan melalui hewan pengerat seperti tikus dan mencit. Virus ini berasal dari genus Orthohantavirus dan dapat menyerang sistem pernapasan maupun ginjal manusia.
Kasus di MV Hondius menjadi perhatian dunia kesehatan internasional. Investigasi menyebut strain yang ditemukan adalah Andes virus, jenis hantavirus yang lazim ditemukan di Amerika Selatan dan dikenal sebagai satu-satunya strain yang dapat menular antarmanusia.
Dinas Kesehatan Kota Bogor menyebut penularan hantavirus pada umumnya terjadi akibat paparan urin, air liur, maupun kotoran tikus yang terinfeksi. Virus dapat masuk ke tubuh manusia melalui udara yang terkontaminasi, sentuhan pada benda tercemar, hingga gigitan tikus.
Meski demikian, penularan dari manusia ke manusia disebut sangat jarang terjadi. Mayoritas kasus berkaitan dengan lingkungan yang memiliki sanitasi buruk atau populasi tikus tinggi.
Gejala awal hantavirus kerap sulit dikenali karena mirip penyakit umum lainnya. Penderita biasanya mengalami demam, sakit kepala, nyeri otot, mual, muntah, hingga nyeri perut. Dalam kondisi berat, penyakit dapat berkembang menjadi gangguan pernapasan akut, penumpukan cairan di paru-paru, gangguan ginjal, hingga kegagalan organ.
Dinkes Bogor juga mengingatkan bahwa hingga kini belum tersedia antivirus khusus maupun vaksin yang digunakan secara luas untuk hantavirus. Penanganan pasien masih berfokus pada terapi suportif dan pengobatan komplikasi.
Kelompok yang paling berisiko terpapar virus ini antara lain petugas kebersihan, pekerja gudang, awak kapal, petani, hingga masyarakat yang tinggal di lingkungan dengan infestasi tikus tinggi.
Berdasarkan data surveilans 2025, Indonesia mencatat 10 kasus konfirmasi hantavirus di lima provinsi, yakni DI Yogyakarta, Jawa Barat, Sulawesi Utara, Nusa Tenggara Timur, dan DKI Jakarta. Di Jawa Barat sendiri terdapat dua kasus konfirmasi, masing-masing di Kabupaten Bandung Barat dan Kabupaten Ciamis.
Sebagai langkah antisipasi, Dinas Kesehatan Kota Bogor telah melakukan pemantauan intensif terhadap perkembangan penyakit virus Hanta melalui sistem kewaspadaan dini dan respons. Selain itu, pemerintah daerah juga memperkuat edukasi kepada masyarakat terkait pentingnya menjaga kebersihan lingkungan dan mengendalikan populasi tikus.
Masyarakat diimbau tidak panik serta tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi. Dinkes meminta warga tetap menerapkan pola hidup bersih dan sehat, menggunakan alat pelindung saat membersihkan area yang berpotensi tercemar kotoran tikus, serta segera memeriksakan diri jika mengalami demam atau gangguan pernapasan setelah kontak dengan lingkungan yang terpapar rodensia.***
