Sunday, 17 May 2026
HomeKota BogorNonton Film Pesta Babi di Bogor Berjalan Aman, Diskusi Papua dan Hutan...

Nonton Film Pesta Babi di Bogor Berjalan Aman, Diskusi Papua dan Hutan Jadi Sorotan

Bogordaily.net – Nonton film Pesta Babi di Bogor ternyata tidak berakhir ricuh. Sabtu malam itu, Lapangan Sempur justru berubah menjadi ruang diskusi terbuka. Tidak ada pembubaran. Tidak ada keributan. Yang terdengar hanya percakapan panjang tentang Papua, hutan, dan hak hidup masyarakat adat.

Pemutaran film dokumenter Pesta Babi yang digelar di kawasan Sempur, Kota Bogor, Sabtu (16/5/2026), berlangsung tertib hingga acara selesai. Padahal sebelumnya sempat muncul kekhawatiran akan adanya penolakan seperti yang terjadi di sejumlah daerah lain.

Di bawah langit malam Bogor, peserta duduk lesehan. Sebagian membawa kopi. Sebagian lagi sibuk berdiskusi bahkan sebelum film diputar. Ada rasa waswas, tetapi panitia memilih tetap berjalan.

Film itu bukan sekadar tontonan.

Ia membuka cerita tentang masyarakat adat Papua yang selama ini hidup berdampingan dengan hutan, sungai, dan tanah yang mereka jaga turun-temurun. Ketika layar mulai menampilkan bentang alam Papua, suasana mendadak hening.

Banyak peserta tampak serius menyimak.

Acara nonton film Pesta Babi di Bogor kemudian dilanjutkan dengan diskusi bersama Pemerhati Masyarakat Adat, Hikmawan, dan Forest Campaigner Greenpeace Indonesia, Anggi Prayoga.

Hikmawan berbicara lugas. Menurutnya, posisi masyarakat adat di Indonesia masih lemah karena belum adanya undang-undang khusus yang benar-benar melindungi mereka.

“Kenapa masyarakat adat tidak kuat melawan kuasa penguasa, karena belum ada undang-undang khusus masyarakat adat,” ujarnya di sela diskusi.

Ia juga menyinggung deklarasi internasional tentang hak masyarakat adat atau UNDRIP. Namun baginya, pengakuan internasional tidak cukup jika perlindungan di dalam negeri belum benar-benar hadir.

Sementara itu, Anggi Prayoga mengajak peserta melihat Papua bukan sebagai wilayah kosong.

Menurutnya, banyak orang lupa bahwa hutan di Papua bukan hanya pepohonan. Di sana ada kehidupan. Ada sumber air. Ada ruang hidup yang dipertahankan masyarakat adat sejak lama.

“Yang diperjuangkan sebenarnya ruang hidup,” kata Anggi.

Kalimat itu terdengar sederhana. Tetapi cukup membuat diskusi malam itu menjadi panjang.

Dalam forum tersebut, peserta juga membandingkan kondisi masyarakat Papua dengan masyarakat di Jawa. Sama-sama hidup bergantung pada alam, tetapi sering kalah oleh kepentingan pembangunan dan investasi.

Acara nonton film Pesta Babi di Bogor akhirnya selesai tanpa gangguan. Namun diskusinya belum benar-benar usai. Sebab isu tentang Papua, lingkungan, dan hak masyarakat adat tampaknya masih akan terus menjadi percakapan panjang di banyak tempat.***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here