Tuesday, 5 May 2026
HomeViralSiapa Canro Simarmata? Viral Minta Rp10 Juta untuk Video Torean, Ini Profil...

Siapa Canro Simarmata? Viral Minta Rp10 Juta untuk Video Torean, Ini Profil Lengkapnya

Bogordaily.net – Siapa Canro Simarmata. Nama itu mendadak beredar cepat. Dari layar ponsel ke layar ponsel. Dari satu grup ke grup lain. Semua bermula dari satu hal: video jalur Torean dan angka Rp10 juta.

Kisahnya sederhana. Tapi efeknya luas.

Tim Utusan Khusus Presiden Bidang Pariwisata (UKP Pariwisata) mengirim pesan. Lewat Instagram. Mereka tertarik pada video milik Canro Simarmata tentang jalur Torean—jalur pendakian yang dikenal eksotis di kaki Rinjani.

Bahasanya sopan. Niatnya jelas: edukasi dan promosi pariwisata.

Canro membalas. Awalnya hangat. Ia mengapresiasi tujuan baik itu. Tidak semua kreator mendapat kesempatan karyanya dipakai untuk kepentingan publik.

Namun kemudian, nada itu berubah menjadi lebih tegas. Profesional.

Ia menyebut angka.

Rp10 juta. Untuk satu video.

Bukan tanpa alasan. Canro menjelaskan proses di balik layar. Pendakian bukan sekadar jalan kaki. Ada biaya. Ada tenaga. Ada risiko. Termasuk izin menerbangkan drone yang bisa menelan biaya sekitar Rp2 juta per hari.

Di situ letak titik diskusinya. Publik mulai bertanya: mahal atau wajar?

Siapa Canro Simarmata. Pertanyaan itu makin sering muncul. Warganet mulai mencari tahu.

Canro bukan nama baru di dunia perjalanan. Ia lahir di Samosir, 4 September 1987. Dan sejak lama menjadikan alam sebagai “kantor”-nya.

Gunung demi gunung ia datangi. Jalur demi jalur ia dokumentasikan. Bukan sekadar foto. Tapi juga video yang rapi, sinematik, dan informatif.

Ia adalah travel blogger. Sekaligus storyteller visual.

Instagram-nya diikuti lebih dari 268 ribu orang. Bukan angka kecil. Itu berarti ada kepercayaan. Ada audiens yang menunggu karyanya.

Di era sekarang, karya seperti itu memang punya nilai. Bukan sekadar hobi.

Konten adalah aset.

Perdebatan pun melebar. Sebagian mendukung Canro. Mereka melihat ini sebagai bentuk profesionalisme kreator. Bahwa karya punya harga. Dan negara—atau lembaga—juga seharusnya menghargai itu.

Sebagian lain mempertanyakan. Bukankah untuk promosi pariwisata nasional? Haruskah dibayar mahal?

Tidak ada jawaban tunggal.

Yang jelas, kasus ini membuka satu hal penting: relasi antara kreator dan institusi kini berubah. Lebih setara. Lebih transaksional. Lebih profesional.

Siapa Canro Simarmata. Kini bukan sekadar pertanyaan identitas. Tapi juga simbol dari perubahan zaman itu sendiri.

Dari sekadar hobi jalan-jalan. Menjadi industri. Menjadi profesi. Bahkan menjadi bahan perdebatan nasional.***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here