Bogordaily.net – Tramadol di Bogor kini bukan lagi sekadar isu pinggiran. Ia sudah berubah menjadi alarm keras bagi orang tua, sekolah, bahkan aparat penegak hukum.
Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) sampai menetapkan Bogor dan Depok dalam status darurat penyalahgunaan obat-obatan terlarang, terutama tramadol dan psikotropika sejenis.
Yang paling mengkhawatirkan: sasaran utamanya anak-anak muda.
Komisi Perlindungan Anak Indonesia melihat situasi ini sebagai ancaman nyata terhadap masa depan pelajar. Wakil Ketua KPAI, Jasra Putra, mengatakan penyebaran tramadol kini sudah masuk ke lingkungan remaja usia sekolah.
“Ini bukan lagi sekadar kenakalan remaja. Ini sudah menjadi kejahatan sistematis yang menyasar kepolosan anak-anak,” kata Jasra.
Fenomena tramadol di Bogor disebut semakin berbahaya karena modus peredarannya ikut berubah. Tidak lagi hanya transaksi sembunyi-sembunyi di jalanan. Kini sindikat memanfaatkan platform digital, aplikasi pesan instan, hingga apartemen sewa harian yang berpindah-pindah agar sulit terlacak aparat.
Yang lebih membuat miris, anak-anak bukan hanya dijadikan konsumen. Mereka juga dipakai sebagai kurir.
Diiming-imingi uang cepat. Diberi rasa “keren” dalam pergaulan. Lalu perlahan masuk ke lingkaran gelap yang sulit keluar.
Data dari Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan menunjukkan sepanjang Januari hingga Oktober 2025 terdapat 38.934 kasus narkoba yang terungkap di Indonesia. Angka itu memperlihatkan bisnis haram ini belum surut. Justru makin kreatif mencari pasar baru: pelajar.
KPAI juga menemukan adanya pergeseran penggunaan zat adiktif lewat vape dan pods. Cairan-cairan tertentu dicampur senyawa berbahaya.
Bahkan ada indikasi penyusupan zat farmasi ilegal ke makanan dan minuman yang dikonsumsi anak-anak.
Di titik inilah keluarga menjadi benteng terakhir.
Psikolog Mulyanto mengatakan remaja berada dalam fase mencari pengakuan sosial. Mereka sangat mudah terdorong mengikuti lingkungan pertemanan.
Karena itu, menurutnya, anak harus dilatih berani berkata “tidak”.
“Yang harus ditolak itu narkobanya, bukan pertemanannya,” ujar Mulyanto.
Kalimat itu sederhana. Tapi sulit dilakukan bila rumah kehilangan kehangatan.
Mulyanto menilai anak yang tumbuh dalam keluarga penuh tekanan, bentakan, dan minim komunikasi emosional akan lebih mudah mencari pelarian di luar rumah. Sebaliknya, anak dengan identitas diri kuat biasanya lebih mampu menjaga prinsip meski berada dalam tekanan kelompok.
Kasus tramadol di Bogor akhirnya menjadi cermin besar tentang rapuhnya pengawasan sosial di sekitar anak-anak. Sekolah, keluarga, lingkungan, hingga pemerintah dituntut bergerak bersama sebelum generasi muda kehilangan arah.
KPAI mendesak pemerintah segera memperketat aturan pengendalian zat adiktif, termasuk vape dan produk sejenis. Mereka juga meminta akses rehabilitasi bagi anak diperluas agar korban penyalahgunaan narkotika tidak justru mendapat stigma negatif.
Sebab dalam banyak kasus, anak-anak sesungguhnya bukan pelaku utama. Mereka hanya korban dari jaringan yang lebih besar.
Dan ketika tramadol mulai akrab di telinga pelajar, maka persoalannya bukan lagi soal obat. Ini soal masa depan.
Kini, pertanyaannya tinggal satu: seberapa cepat semua pihak bergerak sebelum darurat tramadol di Bogor benar-benar kehilangan kendali?.***
