Bogordaily.net -Perubahan suhu dan kadar pH air yang tidak terpantau dapat memengaruhi kondisi kolam dan kesehatan ikan.
“Kalau kata orang, lele ditaruh di mana saja bisa hidup. Tetapi, jika levelnya industri, ini enggak. Dia sensitif juga, sebetulnya. Misalnya, kita telah membuang air kolam, itu kan amonia akan berkumpul. Amonia itu menyebabkan si lele kena penyakit, aeromonas, terus kumis keriting, macam-macam, ” Ujar Pak Eko selaku owner PT Kibou Farm.
Berangkat dari permasalahan tersebut, tim mahasiswa Program Studi Teknologi Rekayasa Komputer (TRK) mengembangkan alat monitoring dan kontrol kualitas air kolam lele berbasis Internet of Things (IoT).
Nabil Rifqi selaku Project Manager tim menjelaskan bahwa ide pengembangan alat ini berawal dari kebutuhan peternak di PT Kibou Farm untuk melakukan pemantauan kolam secara lebih praktis dan efisien.
“Selama ini, pengecekan kondisi air di PT Kibou Farm masih dilakukan langsung di kolam dan pencatatan hasilnya juga masih manual. Padahal, jumlah kolam cukup banyak dan kondisi air bisa berubah. Dari situ kami melihat ada kebutuhan untuk membuat alat yang dapat membantu proses pemantauan dan pencacatan secara digital melalui website monitoring,” ujar Nabil.
Tim kemudian mengembangkan sistem yang terdiri dari alat portabel, alat tetap, dan website monitoring. Alat portabel digunakan untuk mengecek suhu dan pH air langsung di kolam. Melalui alat tersebut, pengurus kolam juga dapat menyalakan atau mematikan pompa air dan electric valve sesuai kebutuhan.
Data suhu dan pH yang terbaca akan dikirim ke website. Selain itu, riwayat penggunaan pompa dan electric valve juga tersimpan sehingga pemilik kolam dapat melihat kondisi kolam tanpa harus selalu berada di lokasi.
Sementara itu, alat tetap dipasang di area kolam untuk menjalankan fungsi kontrol pompa dan electric valve. Perintah untuk menyalakan atau mematikan kedua perangkat tersebut dapat dikirim melalui alat portabel maupun website.
“Jadi, pengurus tetap bisa mengecek langsung di lapangan menggunakan alat portabel. Namun, pemilik kolam juga bisa melihat kondisi kolam dan mengontrol pompa atau valve dari website,” kata Nabil.
Pada hari Selasa, tepatnya 16 Juni 2026, alat tersebut diuji coba langsung di kolam lele milik PT Kibou Farm. Dalam uji coba tersebut, tim melakukan pengecekan suhu dan pH air menggunakan alat portabel, kemudian memastikan data dapat masuk ke website. Tim juga mencoba fitur kontrol pompa dan electric valve, baik dari alat portabel maupun melalui website.
Salah satu pengurus kolam PT Kibou Farm, Pak Lilik, mengaku terbantu dengan adanya alat tersebut. Menurutnya, proses pengecekan kondisi kolam menjadi lebih mudah karena data tidak hanya dilihat langsung di lokasi, tetapi juga dapat dipantau melalui website.
“Kalau sebelumnya kami harus cek satu per satu, sekarang jadi lebih terbantu. Kondisi suhu dan pH bisa langsung dilihat, lalu kalau memang perlu menyalakan pompa atau valve juga lebih mudah. Pemilik juga bisa memantau dari website,” ujar Pak Lilik.
Pengembangan alat ini dilakukan oleh Nabil Rifqi bersama anggota tim dari Program Studi TRK, yaitu Reino Aimar, Muhammad Sulthan, Naufa Hilmatuzzahra, Chealsee Dayanara, Uzma Kratos, Arif Sanda, dan Michael Christian. Tim juga mendapat pendampingan dari Bagas Hidayatullah, S.Kom., selaku pembimbing lapangan. Selama kurang lebih enam bulan, tim melakukan perancangan, pembuatan alat, hingga pengujian langsung di lokasi mitra.
Dalam proses pengembangannya, tim juga didampingi oleh Lathifunnisa Fathonah, S.ST., M.T. selaku dosen Program Studi TRK.
“Mahasiswa tidak hanya belajar membuat alat, tetapi juga belajar memahami kebutuhan pengguna dan mengembangkan solusi yang dapat digunakan secara nyata,” ujarnya.
Ke depan, tim berharap sistem ini dapat terus dikembangkan sesuai kebutuhan mitra. Kehadiran alat ini diharapkan dapat membantu proses pemantauan dan pengelolaan kolam lele menjadi lebih tertata, mudah, dan efisien.***
Penulis: Naufa Hilmatuzzahra, Sekolah Vokasi IPB University, Program Studi Teknologi Rekayasa Komputer, Semester 6


