Bogordaily.net – Jepang vs Belanda menjadi salah satu pertandingan yang paling ditunggu pada laga pembuka Grup F Piala Dunia 2026. Bukan hanya karena nama besar Belanda sebagai kandidat juara, tetapi juga karena Jepang datang dengan status baru: pembunuh raksasa yang semakin matang.
Hajime Moriyasu mungkin tersenyum tipis saat memasuki Stadion AT&T di Dallas. Pelatih Jepang itu tahu timnya tidak lagi dipandang sebelah mata. Sejak menumbangkan Jerman dan Spanyol pada Piala Dunia 2022, Samurai Biru telah mengubah cara dunia memandang sepak bola Asia.
Kini tantangan berikutnya datang dari Belanda.
Moriyasu membangun Jepang dengan filosofi yang sederhana tetapi efektif: disiplin, cepat, dan fleksibel. Organisasi pertahanan mereka rapi. Pressing dilakukan tanpa kompromi. Begitu merebut bola, serangan balik mengalir hanya dalam beberapa sentuhan.
Kekuatan itu bahkan terlihat dalam sejumlah laga uji coba menjelang Piala Dunia 2026. Inggris berhasil dikalahkan 1-0. Brasil juga merasakan kerasnya permainan Jepang. Bukan kemenangan yang datang karena keberuntungan, melainkan hasil dari sistem yang berjalan hampir sempurna.
Namun Jepang datang ke turnamen ini dengan satu kehilangan besar.
Wataru Endo, kapten sekaligus jangkar lini tengah, tidak lagi berada di skuad. Cedera yang dialaminya berujung pada keputusan pensiun dari tim nasional. Kehilangan pemain seperti Endo tentu bukan perkara kecil.
Peran pengganti kemungkinan akan diemban Ao Tanaka bersama Kaishu Sano atau Daichi Kamada. Sementara Ko Itakura kini memikul tanggung jawab lebih besar sebagai pemimpin lini belakang.
Dalam duel Jepang vs Belanda nanti, fokus utama Samurai Biru tampaknya jelas: memutus pengaruh Frenkie de Jong.
Gelandang Barcelona itu adalah pusat permainan Belanda. Hampir seluruh aliran serangan Oranye berawal dari kakinya. Ketika De Jong mendapat ruang, Belanda bisa bermain dengan ritme yang mereka inginkan.
Karena itu Jepang diyakini akan menerapkan pola yang sama seperti saat menghadapi Jerman, Spanyol, bahkan Inggris. Mereka akan berusaha menutup ruang gerak De Jong sejak awal.
Jika strategi itu berhasil, maka Kubo, Junya Ito, dan Ayase Ueda akan memiliki kesempatan besar untuk menghukum pertahanan Belanda melalui serangan cepat.
Di sisi lain, Belanda datang dengan motivasi tinggi. Pelatih Ronald Koeman mengakui timnya belum tampil maksimal dalam laga persahabatan. Kekalahan dari Aljazair dan kemenangan tipis atas Uzbekistan menjadi bahan evaluasi penting.
Namun Koeman tetap percaya diri.
Baginya, Jepang adalah lawan yang layak dihormati, tetapi Belanda tetap memiliki kualitas untuk memenangkan pertandingan. Apalagi kondisi skuad mulai membaik. Kiper utama Bart Verbruggen kembali berlatih penuh. Memphis Depay juga semakin dekat dengan kondisi terbaiknya.
Kehadiran Depay menjadi kabar baik bagi Belanda. Striker yang telah mencetak 55 gol untuk negaranya itu diharapkan mampu membongkar salah satu pertahanan terbaik menuju Piala Dunia 2026.
Statistik Jepang memang mengesankan. Dalam 10 pertandingan kualifikasi, mereka hanya kebobolan tiga gol dan mampu mencetak 30 gol. Angka yang menunjukkan keseimbangan antara menyerang dan bertahan.
Karena itu, Jepang vs Belanda bukan sekadar duel Asia melawan Eropa. Ini adalah pertarungan dua filosofi sepak bola yang berbeda. Belanda mengandalkan kualitas individu dan penguasaan bola. Jepang mengandalkan disiplin kolektif, kecepatan, dan efektivitas.
Siapa yang mampu memaksakan gaya bermainnya lebih dulu kemungkinan akan keluar sebagai pemenang.
Satu hal yang pasti, Jepang tidak lagi datang ke Piala Dunia hanya untuk meramaikan persaingan. Mereka datang dengan ambisi besar. Dan Belanda akan menjadi ujian pertama apakah status pembunuh raksasa itu masih layak mereka sandang.***
