Bogordaily.net – Kolaborasi dalam penanganan stunting di Kota Bogor terus diwujudkan oleh berbagai pihak, terutama dalam upaya membantu Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor menekan angka stunting.
Anggota Perempuan Indonesia Maju (PIM) kembali terlibat dalam upaya pengentasan stunting di Kota Bogor. Untuk keempat kalinya, PIM menjadi ibu asuh bagi anak-anak yang masuk kategori stunting.
Kick off pemberian bantuan bagi balita stunting tersebut dilaksanakan di tiga kelurahan di Kecamatan Bogor Barat, sekaligus health talk yang diselenggarakan oleh PIM Bogor Raya bersama Pemkot Bogor di Balai Kota Bogor.
Kick off dilakukan langsung oleh Wakil Wali Kota Bogor, Jenal Mutaqin, yang juga menjabat sebagai Ketua Tim Percepatan Penurunan dan Pencegahan Stunting (TPPPS) Kota Bogor.
Jenal Mutaqin menjelaskan bahwa kasus stunting di Kota Bogor mengalami fluktuasi yang cukup signifikan. Sempat mengalami penurunan, namun kembali muncul kasus-kasus stunting baru dengan jumlah yang lebih tinggi.
“Sebanyak 30 balita insyaallah akan diintervensi selama enam bulan ke depan dari sisi gizi melalui pemberian makanan yang bermutu bagi anak-anak yang diduga atau berpotensi mengalami stunting,” ujar Jenal Mutaqin
Ia menambahkan, Perempuan Indonesia Maju merupakan salah satu stakeholder yang secara rutin memberikan bantuan dan berkolaborasi dengan program pemerintah.
Sasarannya adalah anak-anak yang dinilai belum tersentuh program pemerintah. Dengan demikian, intervensi dari pihak swasta dapat dilakukan secara tepat sasaran dan menghindari tumpang tindih dengan bantuan yang sudah berjalan.
“Sementara yang kita treatment dan intervensi ternyata menunjukkan hasil yang cukup baik dan bisa kita adopsi di beberapa tempat, sehingga stunting bisa nol di Kota Bogor,” katanya.
Ketua Umum Perempuan Indonesia Maju Pusat, Lana T. Koentjoro, mengungkapkan bahwa bantuan yang diberikan berupa setengah kilogram telur ayam, satu kilogram ayam atau ikan, serta satu kilogram beras yang disalurkan setiap bulan selama enam bulan.
Terdapat tiga kelurahan di Kecamatan Bogor Barat yang menjadi lokasi intervensi, yakni Kelurahan Pasir Jaya, Gunung Batu, dan Curug.
“Ini merupakan salah satu kontribusi nyata PIM kepada masyarakat, khususnya Kota Bogor. Selain itu, kesehatan juga menjadi salah satu program utama kami,” ujar Lana.
Ia menambahkan, program intervensi stunting ini merupakan kali keempat yang dilakukan PIM di Kota Bogor setelah sebelumnya dilaksanakan di beberapa wilayah lain.
“Sebelumnya sudah dilakukan di Bantarjati, Mulyaharja, Kedung Badak, dan Tegal Gundil. Harapannya tentu dapat membantu menurunkan angka stunting di Kota Bogor,” tegasnya.
Di tempat yang sama, Sekretaris Badan Perencanaan Pembangunan, Riset dan Inovasi Daerah (Bapperida) Kota Bogor, Agnes Andriani Kartika Sari, menyampaikan bahwa TPPPS terus berupaya secara optimal menekan angka stunting melalui berbagai intervensi dan konvergensi program yang komprehensif.
Program tersebut didukung oleh pendanaan APBD Kota Bogor maupun bantuan Corporate Social Responsibility (CSR) dari pihak swasta dan berbagai sektor lainnya.
“Berdasarkan data Bulan Penimbangan Balita (BPB) Februari 2025, jumlah balita stunting di Kota Bogor mencapai 1.525 anak. Pada Agustus 2025 turun menjadi 1.491 anak. Namun pada BPB Februari 2026 kembali naik menjadi 1.526 anak,” papar Agnes.
Meski demikian, terdapat lebih dari 500 anak yang telah dinyatakan lulus stunting. Karena itu, intervensi terhadap kasus stunting baru tetap terus dioptimalkan.
Data BPB tersebut kemudian disandingkan dengan Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN). Hasilnya menunjukkan sebanyak 392 balita berada pada desil 1 hingga 5.
Sementara itu, terdapat 202 balita pada desil 6 hingga 10, dan sebanyak 818 balita lainnya masih belum terdata dalam DTSEN.
“Kami bersama Dinas Sosial akan terus melakukan ground check untuk memetakan mereka berada pada desil berapa,” tutup Agnes.
(Muhammad Irfan Ramadan)
