Bogordaily.net – Perjanjian damai Iran – Amerika akhirnya menemukan bentuknya. Setidaknya untuk sementara.
Setelah berbulan-bulan konflik yang mengguncang Timur Tengah, Washington dan Teheran mulai menata ulang hubungan yang selama puluhan tahun lebih sering diwarnai ancaman daripada dialog.
Yang menarik bukan sekadar isi kesepakatannya. Yang lebih menarik adalah fakta bahwa kedua negara itu sampai pada titik ini. Sebab, dalam sejarah modern, Amerika Serikat dan Iran hampir selalu berdiri di dua sisi yang berseberangan.
Dokumen yang kini menjadi pijakan awal disebut sebagai Memorandum Kesepahaman Islamabad. Isinya antara lain penghentian operasi militer, pembukaan kembali jalur pelayaran komersial di Selat Hormuz, hingga komitmen melanjutkan negosiasi menuju kesepakatan permanen dalam waktu 60 hari.
Namun seperti lazimnya diplomasi, yang tertulis di atas kertas belum tentu langsung berjalan mulus di lapangan.
Iran mendapatkan sejumlah kelonggaran ekonomi, termasuk akses terhadap aset yang selama ini dibekukan serta pelonggaran hambatan perdagangan dan pelayaran.
Sebagai gantinya, Teheran diminta memberikan jaminan terkait aktivitas nuklir dan keamanan jalur laut di kawasan Teluk.
Di sinilah tantangannya.
Sebagian kalangan di Amerika menilai kesepakatan itu terlalu menguntungkan Iran.
Sementara di pihak Iran sendiri masih terdapat kelompok yang memandang Washington dengan penuh kecurigaan. Bahkan rencana perundingan lanjutan di Swiss sempat tertunda setelah muncul keraguan dari kedua pihak mengenai implementasi kesepakatan awal.
Karena itu, perjanjian damai Iran – Amerika belum bisa disebut sebagai garis akhir. Ia lebih tepat disebut sebagai jembatan yang sedang dibangun di atas sungai yang masih deras arusnya.
Pemimpin tertinggi Iran bahkan mengakui bahwa dirinya memberikan izin bagi pembicaraan langsung dengan Amerika Serikat. Sebuah pernyataan yang beberapa tahun lalu mungkin sulit dibayangkan keluar dari Teheran.
Bagi dunia, keberhasilan perjanjian damai Iran – Amerika akan membawa dampak jauh melampaui hubungan dua negara. Stabilitas kawasan Timur Tengah, keamanan Selat Hormuz yang menjadi jalur penting perdagangan energi dunia, hingga harga minyak global ikut dipertaruhkan dalam proses ini.
Kini dunia menunggu. Apakah memorandum ini akan berkembang menjadi perdamaian permanen, atau hanya menjadi satu lagi dokumen diplomatik yang tersimpan di rak sejarah.
Jawabannya mungkin baru terlihat dalam beberapa bulan ke depan.***
