HomeBeritaViral di Media Sosial, Terduga Influencer Pria Pakai Kebaya Perempuan saat Kirab...

Viral di Media Sosial, Terduga Influencer Pria Pakai Kebaya Perempuan saat Kirab Malam 1 Suro di Pura Mangkunegaran Tuai Gelombang Kritik

Bogordaily.net – Prosesi Kirab Malam 1 Suro yang berlangsung di kawasan Pura Mangkunegaran, Solo, mendadak menjadi perbincangan luas di media sosial.

Bukan karena kemegahan acara maupun nilai budaya yang terkandung di dalamnya, melainkan akibat kemunculan seorang pria yang diduga merupakan influencer dan terlihat mengenakan busana yang diperuntukkan bagi peserta perempuan.

Foto dan potret suasana kirab tersebut dengan cepat menyebar di berbagai platform digital. Banyak pengguna media sosial menyoroti penampilan pria tersebut yang hadir menggunakan kebaya lengkap dengan sanggul dan kain batik, sebagaimana tata busana yang lazim dikenakan peserta perempuan dalam prosesi sakral tersebut.

Perbincangan publik semakin ramai setelah seorang abdi dalem Keraton Kasunanan Surakarta melalui akun Threads @mbulnyandul mengunggah sebuah utas yang menyoroti kejadian tersebut pada Rabu, 17 Juni 2026.

Dalam unggahan itu, pemilik akun mengaku menemukan adanya peserta laki-laki yang mengikuti Kirab Malam 1 Suro dengan mengenakan atribut busana perempuan. Ia menilai tindakan tersebut tidak sesuai dengan tata aturan dan etika yang selama ini diterapkan dalam pelaksanaan kirab budaya tersebut.

Merasa keberatan, pemilik akun bahkan mengaku langsung menyampaikan keluhan tersebut kepada salah satu putri Pura Mangkunegaran, yakni GRAj Ancillasura Marina Sudjiwo atau yang akrab disapa Gusti Sura.

“Tolong ini anaknya ditegur. Dikasih tahu mana yang patut mana yang tidak. Acara sakral, bukan acara mejeng-mejeng. Dengan segala hormat nggih ibu Gusti Sura @ancsud, nyuwun palilah,” tulis akun tersebut dalam unggahannya.

Berdasarkan foto yang beredar luas, pria yang menjadi sorotan itu terlihat mengenakan kebaya yang identik dengan peserta perempuan dalam Kirab Malam 1 Suro. Ia juga tampak berfoto bersama sejumlah tamu dan figur publik yang turut menghadiri acara tersebut, termasuk Paola Serena.

Kontroversi semakin memanas setelah beredar tanggapan dari pria tersebut saat mendapat kritik terkait busana yang dikenakannya. Ketika dipersoalkan mengenai kesesuaian pakaian dengan aturan tradisi yang berlaku, ia memberikan jawaban yang kemudian memicu perdebatan lebih luas.

“Karena pakaian tidak punya jenis kelamin kawan,” balasnya.

Pernyataan tersebut menuai beragam respons dari masyarakat. Sebagian pihak menilai persoalan ini bukan semata-mata soal pilihan berpakaian, melainkan berkaitan dengan penghormatan terhadap aturan dan tata cara dalam sebuah ritual budaya yang dianggap sakral oleh masyarakat Jawa.

Banyak pemerhati budaya dan warganet berpendapat bahwa setiap peserta yang mengikuti prosesi adat seharusnya mematuhi ketentuan berpakaian yang telah ditetapkan penyelenggara sebagai bentuk penghormatan terhadap nilai-nilai tradisi yang diwariskan secara turun-temurun.

Di sisi lain, diskusi mengenai peristiwa ini juga berkembang ke ranah yang lebih luas, termasuk soal kebebasan berekspresi dan batasannya ketika berada dalam ruang budaya yang memiliki aturan serta pakem tertentu.

Hingga kini, foto dan unggahan terkait kejadian tersebut masih ramai diperbincangkan di berbagai platform media sosial.

Perdebatan pun terus berlangsung antara pihak yang menilai tindakan tersebut melanggar etika budaya dengan mereka yang menganggapnya sebagai bagian dari ekspresi pribadi.(*)

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here