Bogordaily.net – Dunia pendidikan selama ini identik dengan ruang kelas, penelitian, dan aktivitas akademik. Namun, siapa sangka semangat berkarya di bidang seni juga dapat tumbuh di tengah kesibukan sebagai tenaga pendidik.
Hal inilah yang dibuktikan oleh tiga dosen yang tergabung dalam grup vokal Dosthree.
Beranggotakan Andi Primafira, Widya Yunitawati, dan Rosalina, trio ini resmi memulai perjalanan di industri musik Indonesia dengan meluncurkan single perdana berjudul “Janji Temu”.
Lagu tersebut menjadi langkah awal mereka memperkenalkan karya kepada masyarakat sekaligus menunjukkan bahwa profesi akademisi tidak menjadi batas untuk menyalurkan kreativitas.
Peluncuran single digelar dalam suasana hangat di Anastomosis Coffee, Jakarta, yang dihadiri sejumlah rekan, sahabat, hingga insan media. Momen tersebut menjadi tonggak penting bagi Dosthree untuk memperkenalkan identitas mereka sebagai grup musik yang lahir dari lingkungan akademik.
Berawal dari Hobi Menyanyi di Tengah Kesibukan Mengajar
Terbentuknya Dosthree bukanlah hasil perencanaan yang instan. Ketiganya mengaku memiliki kesamaan minat terhadap dunia tarik suara sejak lama. Di sela aktivitas mengajar dan menjalankan tugas sebagai dosen, mereka kerap menghabiskan waktu bersama dengan bernyanyi.
Kebiasaan itulah yang kemudian berkembang menjadi sebuah gagasan untuk membentuk grup vokal dan menghasilkan karya yang dapat dinikmati masyarakat luas.
Andi Primafira mengatakan bahwa kesamaan profesi dan hobi menjadi fondasi utama lahirnya Dosthree.
“Kami bertiga memiliki latar belakang yang sama, yakni sebagai dosen. Namun di luar itu, kami memiliki hobi yang sama, yaitu menyanyi. Dari situlah Dosthree terbentuk,” ungkap Andi Primafira saat peluncuran single.
Menurutnya, musik bukan sekadar hiburan, tetapi juga menjadi media yang mempererat persahabatan dan membangun semangat berkarya di luar rutinitas akademik.
“Janji Temu” Terinspirasi dari Kisah Sehari-hari
Sebagai karya perdana, Dosthree memilih lagu “Janji Temu” karena dinilai memiliki pesan yang sederhana tetapi dekat dengan kehidupan banyak orang.
Rosalina menjelaskan bahwa inspirasi lagu tersebut berasal dari pengalaman sehari-hari mereka yang sering membuat janji untuk bertemu, baik dengan sesama anggota grup maupun dengan keluarga dan sahabat.
Pengalaman sederhana itu kemudian dirangkai menjadi sebuah cerita yang hangat melalui lirik yang ringan dan mudah dipahami.
“Judul dan lirik dalam lagu ‘Janji Temu’ berlandaskan pada pengalaman pribadi, yakni sering janji untuk bertemu dengan seseorang ataupun sesama anggota Dosthree. Kami berharap lagu ini bisa relate dengan para pendengar dan bisa diterima oleh para pecinta musik,” tutur Rosalina.
Ia berharap setiap pendengar dapat merasakan kehangatan, kebersamaan, serta makna pertemuan yang menjadi ruh utama lagu tersebut.
Hadir di Platform Musik Digital
Mengikuti perkembangan industri musik saat ini, Dosthree memilih mendistribusikan karya mereka melalui berbagai platform musik digital.
Langkah tersebut dilakukan agar lagu “Janji Temu” dapat menjangkau pendengar yang lebih luas, mulai dari kalangan mahasiswa, dosen, hingga masyarakat umum di berbagai daerah.
Widya Yunitawati mengatakan kehadiran mereka di platform digital bukan semata mengejar popularitas, melainkan ingin menunjukkan bahwa siapa pun dapat terus berkarya tanpa dibatasi profesi.
“Harapan kami bisa terus berkarya. Ini dijalani dengan landasan rasa senang dan bahagia. Sekarang pun lagu ‘Janji Temu’ sudah bisa didengarkan di berbagai platform musik,” ujarnya.
Dalam proses produksi lagu, ketiga personel mengaku aktif berdiskusi dan saling memberikan masukan pada setiap tahap pengerjaan.
Mulai dari konsep, penghayatan lirik, hingga penyempurnaan vokal dilakukan secara bersama-sama agar menghasilkan karya yang benar-benar merepresentasikan karakter Dosthree.
Widya menilai pengalaman sebagai dosen justru membantu mereka dalam membangun komunikasi yang efektif selama proses kreatif berlangsung.
“Kami saling melengkapi. Satu sama lain memberikan ide, dan semua berjalan dengan cair karena kami memang sudah dekat sejak lama,” tambahnya.
Kolaborasi tersebut menghasilkan harmoni vokal yang menjadi identitas utama Dosthree dalam membawakan lagu “Janji Temu”.
Membuktikan Akademisi Juga Bisa Berkarya di Dunia Seni
Dosthree berharap kehadiran mereka dapat mematahkan anggapan bahwa dunia akademik dan dunia seni merupakan dua bidang yang sulit dipadukan.
Ketiganya meyakini banyak akademisi memiliki bakat di bidang seni yang belum sempat dieksplorasi karena padatnya aktivitas profesional.
Melalui langkah ini, mereka ingin mengajak para dosen, guru, maupun tenaga pendidik lainnya untuk tetap berani mengembangkan potensi di luar profesi utama.
Bagi Dosthree, berkarya di dunia musik tidak mengurangi dedikasi sebagai pendidik, melainkan menjadi ruang positif untuk mengekspresikan kreativitas sekaligus memberikan inspirasi kepada mahasiswa dan masyarakat.
Dari sisi musikalitas, “Janji Temu” mengusung aransemen yang ringan dengan harmoni vokal yang menjadi kekuatan utama grup ini.
Tema mengenai janji, pertemuan, dan kebersamaan dikemas dalam lirik yang sederhana sehingga mudah dinikmati berbagai kalangan, baik generasi muda maupun dewasa.
Dengan karakter musik yang hangat dan mudah diterima, lagu tersebut diharapkan mampu menjadi teman di berbagai suasana, mulai dari perjalanan, waktu santai, hingga momen berkumpul bersama keluarga dan sahabat.
Peluncuran single “Janji Temu” menjadi langkah awal bagi Dosthree untuk menapaki industri musik Indonesia. Ketiganya optimistis karya ini dapat diterima masyarakat sekaligus membuka jalan bagi lahirnya karya-karya berikutnya.
Lebih dari sekadar merilis lagu, Dosthree ingin menghadirkan inspirasi bahwa siapa pun memiliki kesempatan untuk berkarya, selama dijalani dengan konsistensi, kerja sama, dan kecintaan terhadap bidang yang ditekuni.
“Semoga melalui single ‘Janji Temu’ dapat menginspirasi para akademisi lain untuk tidak takut mengeksplorasi bakat dan minat di luar bidang keilmuan mereka,” tutup Widya Yunitawati.
Dengan hadirnya Dosthree, industri musik Indonesia kembali memperoleh warna baru. Trio dosen ini membuktikan bahwa ruang akademik dan dunia seni bukanlah dua hal yang saling bertolak belakang, melainkan dapat berjalan beriringan untuk melahirkan karya yang inspiratif dan bermakna.(*)
