Bogordaily.net – Lebih dari satu abad, aroma dan cita rasa Kopi Bah Sipit masih menjadi bagian dari perjalanan kuliner Kota Bogor. Usaha kopi yang dirintis Yoe Hong Keng pada 1925 ini mampu mempertahankan eksistensinya hingga memasuki usia 101 tahun.
Keberadaan kedai-kedai kopi dengan konsep modern yang terus bermunculan tidak membuat Kopi Bah Sipit kehilangan tempat di hati konsumennya.
Hingga kini, usaha keluarga tersebut tetap berjalan dan diwariskan secara turun-temurun, dengan Nancy Wahyuni sebagai generasi ketiga yang ikut menjaga keberlanjutan bisnis sekaligus warisan sang kakek.
Nancy yang lahir pada Mei 1978 mengaku sudah akrab dengan aroma kopi sejak kecil. Meski demikian, saat masih muda, ia tidak pernah terpikir untuk meneruskan usaha yang telah dirintis keluarganya.
Namun, perjalanan waktu membuat Nancy akhirnya mengambil peran dalam menjaga eksistensi Kopi Bah Sipit. Berbagai inovasi dilakukan agar produk kopi legendaris tersebut tetap relevan dan dikenal masyarakat luas.
“Kita dimulai dari 1925, kita sampai sekarang berarti sudah 101 tahun. Ee menghadapi berbagai cobaan lah ya, krisis, beberapa kali krisis, ya puji Tuhan bisa bertahan,” ujar Nancy.
Menurutnya, dahulu pemasaran Kopi Bah Sipit hanya mengandalkan penjualan di toko tanpa strategi marketing yang luas. Kondisi tersebut membuat jangkauan konsumennya lebih terbatas dibandingkan saat ini.
“Karena kalau dulu penjualan kami hanya di toko, tidak menggunakan marketing apa pun lah, gitu ya. Jadi, jangkauannya lebih terbatas kali, seperti itu,” katanya.
Dari sejumlah produk yang ditawarkan, varian klasik berbahan 100 persen Robusta menjadi salah satu yang paling banyak diminati konsumen sejak dahulu hingga sekarang.
“Dari dulu kopi yang paling best seller di kita itu adalah varian klasik kita sebutnya, itu kopinya Robusta 100%, jadi taste-nya itu bold, pahit gitu. Itu paling best seller masih sampai saat ini,” jelas Nancy.
Untuk harga, kopi Robusta Klasik kemasan 250 gram saat ini dibanderol sekitar Rp37.500. Sementara varian Arabika kemasan 200 gram berada di kisaran Rp60 ribu hingga Rp70 ribu, bahkan bisa mencapai Rp90 ribu tergantung proses pengolahannya.
Konsumen juga dapat membeli kopi dalam bentuk biji maupun bubuk. Kopi yang dibeli dalam bentuk biji dapat digiling langsung tanpa biaya tambahan, dengan harga yang tetap sama.
Bagi Nancy, mempertahankan nama besar Kopi Bah Sipit selama lebih dari satu abad bukan sekadar persoalan menjaga resep, tetapi juga mempertahankan prinsip dalam menjalankan usaha.
Ia mengaku selalu mengingat pesan dari sang ayah untuk menjalankan bisnis dengan kejujuran dan tidak membohongi pelanggan.
“Ketika berbisnis itu kita berbisnis dengan hati yang jujur, jadi jangan ada niat untuk membohongi customer. Itu yang masih kita jaga sampai sekarang,” ungkapnya.
Prinsip tersebut salah satunya diwujudkan dengan mempertahankan komitmen bahwa produk Kopi Bah Sipit merupakan kopi murni tanpa campuran.
“Yang pasti, kita bisa jamin kopi kita 100% kopi tulen tanpa campuran apa pun. Itu yang dijaga dari kakek, ayah, dan sampai saat ini,” tegas Nancy.
Perjalanan 101 tahun Kopi Bah Sipit juga tidak selalu berjalan mulus. Salah satu tantangan terbesar terjadi saat pandemi Covid-19 pada 2020. Pembatasan aktivitas dan perubahan pola belanja masyarakat membuat penjualan kopi ikut mengalami penurunan.
Meski demikian, Kopi Bah Sipit mampu melewati masa sulit tersebut dan tetap bertahan hingga kini.
Nancy menilai keberlangsungan usaha juga tidak terlepas dari cara menjaga semangat dalam menghadapi berbagai tantangan. Baginya, selalu mengambil sisi positif dan bersyukur menjadi bagian penting dalam menjalani proses tersebut.
Kini, di tengah persaingan industri kopi yang semakin berkembang, Nancy bersama generasi penerus Kopi Bah Sipit terus berupaya menjaga warisan keluarga tersebut. Bukan hanya mempertahankan nama yang telah berusia 101 tahun, tetapi juga memastikan cita rasa dan keaslian kopi tetap terjaga dari generasi ke generasi.***
