HomeBeritaKorban Meninggal Gempa NTT Tembus 100 Jiwa, BNPB Tegaskan Bukan Akibat Gempa...

Korban Meninggal Gempa NTT Tembus 100 Jiwa, BNPB Tegaskan Bukan Akibat Gempa Baru

Bogordaily.net – Jumlah korban meninggal dunia akibat gempa bumi yang mengguncang wilayah Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), dilaporkan telah mencapai 100 jiwa.

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Suharyanto, menjelaskan bahwa kenaikan jumlah korban meninggal tersebut bukan disebabkan oleh adanya gempa baru yang menambah korban di lapangan.

Menurutnya, sebagian korban sebelumnya mengalami luka berat dan sempat mendapatkan perawatan di sejumlah fasilitas kesehatan. Namun, kondisi mereka tidak berhasil diselamatkan hingga akhirnya meninggal dunia.

“Untuk jumlah meninggal, ini perlu kami tegaskan, bahwa yang meninggal seratus ini adalah korban gempa yang semula luka berat, yang dirawat di fasilitas kesehatan, ini tidak berhasil diselamatkan. Dari yang semula di hari pertama dan kedua ada 48 orang, total per hari ini menjadi 100 jiwa,” terang Suharyanto dalam konferensi pers daring, Senin.

Selain korban meninggal dunia, bencana tersebut juga menyebabkan 1.603 orang mengalami luka-luka. Sementara itu, sebanyak 180.327 warga harus mengungsi ke sejumlah lokasi untuk mendapatkan perlindungan dan memenuhi kebutuhan dasar setelah gempa.

Di tengah proses penanganan bencana, masyarakat juga dihadapkan pada beredarnya informasi mengenai potensi tsunami susulan. Informasi tersebut disebut memicu kepanikan di sejumlah wilayah terdampak.

Sejumlah warga bahkan dilaporkan memilih meninggalkan lokasi pengungsian dan mendirikan titik pengungsian secara mandiri di kawasan perbukitan.

Kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi petugas karena lokasi pengungsian yang berada jauh dari permukiman membuat proses distribusi bantuan menjadi lebih sulit.

BNPB kemudian mengimbau masyarakat agar tidak mudah mempercayai informasi yang belum terverifikasi, terutama mengenai ancaman tsunami susulan.

Masyarakat diminta mengikuti perkembangan kondisi gempa melalui sumber resmi, termasuk informasi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

“Isu tsunami susulan itu tidak betul. Setiap pagi BMKG selalu meng-update perkembangan gempa, dan dalam delapan hari ini tidak pernah ada satupun gempa susulan yang melebihi gempa utama. Kami suarakan ini supaya masyarakat tidak percaya isu hoaks yang tidak bertanggung jawab,” tegasnya.

Sementara itu, aktivitas kegempaan di wilayah tersebut masih terus terjadi. Berdasarkan data BMKG hingga hari ke delapan setelah gempa utama, tercatat sebanyak 6.697 kali gempa susulan.

Dari ribuan gempa susulan tersebut, sebanyak 141 gempa dilaporkan dirasakan oleh masyarakat. Magnitudo terbesar dari gempa susulan yang tercatat mencapai 6,2, sementara 33 gempa lainnya memiliki kekuatan di atas magnitudo 5,0.

Aktivitas gempa susulan tersebut diperkirakan masih dapat berlangsung dalam beberapa pekan. BNPB menyebut aktivitas tersebut diprediksi terus terjadi selama sekitar tiga hingga empat minggu, meskipun intensitasnya diperkirakan akan mengalami penurunan secara bertahap.

Kondisi medan di sejumlah wilayah terdampak juga menjadi tantangan dalam proses penanganan. Lokasi pengungsian yang berada di kawasan perbukitan dan sulit dijangkau membuat petugas harus menggunakan kendaraan berukuran kecil hingga berjalan kaki untuk mengantarkan bantuan.

Upaya tersebut dilakukan untuk memastikan kebutuhan dasar warga tetap terpenuhi, terutama bagi masyarakat yang berada di lokasi terpencil dan belum dapat dijangkau kendaraan logistik dalam jumlah besar.

Di tengah situasi tersebut, pemerintah dan petugas kebencanaan terus melakukan pendataan, penanganan korban, distribusi bantuan, serta pemantauan aktivitas gempa susulan.

Adapun data sementara yang disampaikan dalam penanganan bencana tersebut mencatat 100 orang meninggal dunia, 1.603 orang mengalami luka-luka, dan 180.327 orang mengungsi.

Sementara dari sisi aktivitas kegempaan, tercatat 6.697 gempa susulan, dengan 141 di antaranya dirasakan masyarakat dan gempa susulan terbesar mencapai magnitudo 6,2.

Selain itu, terdapat pula catatan gempa yang dirasakan pada 24 Agustus 2026 pukul 17.03 WIB dengan magnitudo 5,6, berlokasi di 5,01 LS dan 129,68 BT. Pusat gempa tersebut disebut berada di laut, sekitar 206 kilometer tenggara Maluku Tengah, dengan kedalaman 10 kilometer.***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here