Ada kalanya sebuah forum tidak hanya menambah pengetahuan, tetapi juga mengubah cara kita memandang sebuah industri. Itulah yang saya rasakan ketika menghadiri Sharing Education Session yang diselenggarakan oleh Asosiasi Rekreasi Keluarga Indonesia (ARKI) pada 4 Agustus 2026.
Di tengah pembahasan mengenai inovasi wahana, strategi pemasaran, dan pengembangan bisnis rekreasi, saya justru menangkap satu benang merah yang menurut saya jauh lebih penting daripada semua itu.
Kepercayaan adalah aset terbesar industri rekreasi, dan keselamatan adalah fondasi yang menjaganya.
Sering kali kita mengukur keberhasilan sebuah destinasi dari jumlah pengunjung, panjangnya antrean, atau ramainya pemberitaan di media sosial. Padahal, ada ukuran yang jauh lebih mendasar, yaitu seberapa besar rasa aman yang dirasakan setiap keluarga ketika mempercayakan waktu berharganya kepada kita.
Di balik setiap tawa anak-anak yang menikmati wahana, ada harapan orang tua agar mereka dapat pulang dengan selamat. Di balik setiap foto yang diunggah ke media sosial, ada keyakinan bahwa seluruh fasilitas yang digunakan telah dirancang, diperiksa, dan dioperasikan dengan standar keselamatan yang tinggi.
Kepercayaan seperti inilah yang sesungguhnya menjadi mata uang paling berharga dalam industri rekreasi.
Tidak ada wahana yang cukup menarik untuk menggantikan rasa aman. Tidak ada promosi yang cukup besar untuk menutup hilangnya kepercayaan. Dan tidak ada keberhasilan bisnis yang dapat bertahan lama apabila keselamatan tidak menjadi prioritas utama.
Karena itu, keselamatan tidak boleh dipahami hanya sebagai kewajiban memenuhi regulasi. Keselamatan harus menjadi budaya organisasi, cara berpikir, dan komitmen moral yang hidup dalam setiap lapisan perusahaan.
Budaya tersebut dimulai dari hal-hal yang sering kali tidak terlihat oleh pengunjung: inspeksi yang dilakukan secara konsisten, pemeliharaan yang disiplin, audit yang objektif, kesiapan menghadapi keadaan darurat, hingga keberanian untuk menghentikan operasional apabila standar keselamatan belum terpenuhi.
Semua itu mungkin tidak terlihat oleh pengunjung. Namun justru itulah yang membuat mereka merasa tenang tanpa harus memikirkannya.
Dalam dunia yang semakin terhubung oleh teknologi dan media sosial, reputasi sebuah destinasi dapat berubah hanya dalam hitungan menit. Satu insiden tidak hanya berdampak pada satu perusahaan, tetapi juga dapat memengaruhi persepsi masyarakat terhadap industri rekreasi secara keseluruhan.
Oleh sebab itu, membangun budaya keselamatan bukan lagi sekadar kepentingan masing-masing perusahaan. Ini adalah tanggung jawab kolektif seluruh pelaku industri.
Saya percaya bahwa masa depan industri rekreasi Indonesia tidak hanya ditentukan oleh seberapa cepat kita menghadirkan wahana baru atau mengikuti tren global. Masa depan industri ini akan ditentukan oleh seberapa konsisten kita menjaga standar keselamatan, meningkatkan kualitas operasional, serta menempatkan manusia sebagai prioritas utama dalam setiap keputusan.
Ketika keselamatan menjadi budaya, kepercayaan akan tumbuh. Ketika kepercayaan tumbuh, industri akan berkembang secara berkelanjutan. Dan ketika industri berkembang dengan penuh tanggung jawab, masyarakat akan memperoleh sesuatu yang jauh lebih berharga daripada sekadar hiburan, yaitu rasa nyaman untuk kembali, mengajak keluarga, dan menciptakan kenangan indah dari generasi ke generasi.
Semoga semakin banyak pelaku industri rekreasi di Indonesia yang menjadikan keselamatan bukan sekadar standar operasional, melainkan identitas dan kebanggaan bersama.
Karena pada akhirnya, keberhasilan industri ini bukan hanya diukur dari banyaknya tiket yang terjual, melainkan dari banyaknya keluarga yang pulang dengan senyum, rasa aman, dan keinginan untuk kembali.***
Ditulis oleh: Dedy Perdanaria Jakarta
