Bogordaily.net – Nama Abah Didi belakangan cukup sering muncul di media sosial. Bukan karena membuat konten yang rumit. Justru karena ia mengangkat sesuatu yang sangat dekat dengan kehidupan banyak orang: pekerjaan.
Tentang bangun pagi. Berangkat kerja. Duduk berjam-jam di depan komputer. Mengejar target. Menunggu tanggal gajian. Lalu mengulanginya lagi.
Begitulah kehidupan yang sering disebut sebagai kehidupan “budak korporat” menjadi bahan konten Abah Didi.
Lantas, siapa Abah Didi sebenarnya?
Abah Didi diketahui memiliki nama asli Yudi Santoso. Ia lahir di Muara Jawa pada 16 Februari 1988.
Yudi dikenal sebagai konten kreator yang aktif membagikan video melalui TikTok dan Instagram. Kontennya banyak mengambil cerita keseharian pekerja dan dinamika kehidupan di lingkungan perusahaan.
Yang membuat sosok Abah Didi mudah dikenali adalah penampilannya.
Ia kerap menggunakan filter rambut putih sehingga wajahnya terlihat seperti seorang pria yang jauh lebih tua. Dari sinilah karakter Abah Didi terasa semakin kuat.
Namun, di balik rambut putih tersebut, persoalannya justru sangat modern: dunia kerja.
Tema “budak korporat” menjadi salah satu identitas konten Abah Didi.
Istilah tersebut biasanya digunakan secara jenaka untuk menggambarkan karyawan yang menghabiskan sebagian besar waktunya untuk pekerjaan dan perusahaan.
Abah Didi mengemas situasi tersebut dalam bentuk konten ringan. Ada humor, ada sindiran, tetapi juga ada potret kehidupan yang mungkin terasa akrab bagi banyak pekerja.
Karena itu, kontennya mudah diterima.
Orang yang pernah mengalami rapat mendadak, lembur, target pekerjaan, atau menunggu transfer gaji biasanya tidak membutuhkan penjelasan panjang untuk memahami leluconnya.
Cukup melihat videonya, lalu tersenyum sendiri.
Popularitas Abah Didi terlihat dari jumlah pengikutnya di media sosial.
Di TikTok, akun @ig_didi_w88 disebut telah memiliki sekitar 738,2 ribu pengikut.
Sementara di Instagram, akun @didi_w8 memiliki sekitar 723 ribu pengikut.
Angka tersebut menunjukkan bahwa karakter Abah Didi bukan sekadar persona untuk satu atau dua video. Ia telah membangun komunitas penonton yang mengikuti konten-kontennya.
Yudi Santoso masih aktif membuat konten melalui media sosial.
Selain membagikan hiburan, Abah Didi juga membuka peluang kerja sama dengan berbagai pihak untuk kebutuhan promosi produk.
Ini menjadi gambaran lain dari perkembangan profesi kreator digital.
Dulu seseorang harus memiliki layar televisi untuk dikenal banyak orang. Sekarang, kamera ponsel, karakter yang kuat, dan kemampuan membaca kehidupan sehari-hari bisa menjadi modal untuk membangun sebuah nama.
Abah Didi memilih dunia kerja sebagai bahan ceritanya.
Dan mungkin itu pula yang membuatnya mudah diterima. Sebab di balik karakter rambut putih dan humor tentang “budak korporat”, ada kehidupan jutaan pekerja yang setiap hari melakukan hal yang sama.
Bangun.
Bekerja.
Pulang.
Besok mengulanginya lagi.***
