Bogordaily.net — Api boleh tidak lagi terlihat. Tetapi di Tempat Pembuangan Akhir Sampah (TPAS) Galuga, Kabupaten Bogor, persoalannya belum selesai.
Asap masih keluar dari sejumlah gunungan sampah. Tipis, tetapi terus-menerus.
Di bawah tumpukan sampah itulah bara masih hidup.
Kebakaran di TPAS Galuga kini meluas hingga sekitar 7,1 hektare. Luasan tersebut merupakan gabungan wilayah pengelolaan sampah milik Pemerintah Kabupaten Bogor dan Pemerintah Kota Bogor.
Bupati Bogor Rudy Susmanto menyebut kebakaran yang semula hanya sekitar 1,7 hektare kemudian meluas menjadi lima hektare. Setelah dihitung bersama area yang masuk wilayah Kota Bogor, luas kawasan terdampak mencapai sekitar 7,1 hektare.
“Awalnya 1,7 hektare, kemudian menjadi lima hektare. Sekarang kalau digabung dengan wilayah Kota Bogor kurang lebih 7,1 hektare,” kata Rudy di Cibungbulang, Jumat (11/9/2026).
Namun angka 7,1 hektare itu bukan berarti seluruh kawasan sedang terbakar dengan kobaran api besar.
Justru masalahnya sekarang lebih sulit dilihat.
Api berada di dalam.
Gunungan sampah yang terbakar merupakan timbunan lama yang usianya sudah puluhan tahun. Tingginya lebih dari 10 meter dan kondisinya sudah mengeras.
Rudy menggambarkan tumpukan tersebut seperti briket.
Dari luar tampak tidak terbakar. Tetapi di dalamnya masih menyimpan panas dan bara.
Karena itu, petugas tidak cukup hanya menyemprotkan air dari permukaan.
Gunungan sampah harus dibongkar.
Alat berat digunakan untuk mengurai tumpukan tersebut satu per satu. Setelah terbuka, bagian yang masih menyimpan bara disiram dan didinginkan. Setelah dipastikan aman, sampah kembali ditutup.
“Kalau dilihat, apinya tidak terlihat. Namun, asap terus mengepul sedikit-sedikit dan di dalamnya ternyata masih ada bara api. Kami bongkar satu per satu lalu didinginkan,” ujar Rudy.
Pekerjaan itu jelas tidak sesederhana memadamkan api di lahan kosong.
Sebab semakin lama sampah tertimbun, semakin padat dan keras pula bagian dalamnya. Bara bisa bertahan jauh lebih lama dibandingkan api yang terlihat di permukaan.
Rudy mengibaratkannya seperti bisul.
“Ibarat bisul, harus dipecahkan satu per satu. Kalau tidak dibongkar, ditunggu satu sampai tiga hari pun apinya tidak akan mereda,” katanya.
Sisi selatan yang dikelola Pemerintah Kabupaten Bogor disebut sudah berhasil dipadamkan. Tetapi proses pendinginan masih terus dilakukan.
Tujuannya satu: jangan sampai api kembali muncul.
Sementara itu, penanganan di sisi utara menjadi perhatian tim gabungan Pemerintah Kabupaten dan Pemerintah Kota Bogor karena asap masih terlihat keluar dari sejumlah titik.
Petugas bekerja dengan alat berat untuk membongkar gunungan sampah dan mencari titik-titik bara yang tersembunyi.
Targetnya, pembongkaran dan pendinginan dapat diselesaikan menjelang subuh.
Di tengah penanganan kebakaran, pelayanan persampahan juga tidak boleh berhenti.
Armada pengangkut sampah tetap diperbolehkan masuk ke kawasan TPAS Galuga. Namun pergerakannya diatur secara bergiliran agar proses penanganan kebakaran tetap berjalan.
Kebakaran Galuga sendiri bermula pada Senin (7/9/2026) sekitar pukul 16.00 WIB.
Api pertama kali muncul dari lahan pertanian yang berada di sekitar TPAS Galuga. Dari sana api kemudian merambat ke kawasan pembuangan sampah.
Empat hari berlalu, persoalan belum benar-benar selesai.
Yang tersisa bukan lagi kobaran api yang mudah terlihat. Melainkan bara yang bersembunyi di antara timbunan sampah lama.
Untuk sementara, Pemerintah Kabupaten Bogor belum mengumumkan penyebab kebakaran.
Keselamatan masyarakat dan proses pemadaman menjadi prioritas.
Penyelidikan mengenai penyebab kebakaran akan dilakukan setelah situasi darurat dan penanganan api dinyatakan selesai.
Galuga kembali mengingatkan satu hal: kebakaran di tempat pembuangan sampah tidak selalu berakhir ketika api di permukaan sudah hilang.
Kadang, api justru sedang bekerja diam-diam di bawahnya.***
