Saturday, 5 April 2025
HomeKota BogorKota Bogor Menjadi Salah Satu Kota yang Perduli Terhadap Perubahan Iklim

Kota Bogor Menjadi Salah Satu Kota yang Perduli Terhadap Perubahan Iklim

Bogordaily.net Bogor, di Jawa Barat yang intensitas curah hujannya tinggi, masuk menjadi salah satu dari lima di Indonesai yang perduli terhadap perubahan iklim. Data tersebut, dikeluarkan oleh usat Inovasi dan Komunitas Cerdas Institut Teknologi Bandung (ITB).

Selain Bogor, lima tersebut yakni Semarang, Surabaya, Bogor, Bandung dan Tangerang.

Riset ini merupakan hasil yang belum lama dirilis Pusat Inovasi dan Komunitas Cerdas Institut Teknologi Bandung (ITB) tentang Rating Transformasi Digital dan Kota Cerdas Indonesia 2021.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Bogor Deni Wismanto mengatakan, di Kota Bogor ada beberapa program peduli terhadap perubahan iklim.

“Program-program ini merupakan program Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor secara komprehensif dan melibatkan beberapa instansi,” kata Deni, Senin, 14 Februari 2022.

Deni menyebutkan, beberapa program tersebut antara lain, Program Bogor Lancar (rerouting dan shifting transportasi publik, angkot berbahan bakar gas), Program Bogor Merenah (pembangunan pedestrian dan jalur sepeda, program kampung bersih dan hijau/lomba kebersihan, program benah kampung, program kampung iklim), Program Bogor Tanpa Plastik (Botak), Program TPS3R dan bank sampah, Perogeam Sekolah Adiwiyata, dan Sekolah Berbudaya Lingkungan.

Terpisah, Ketua Pusat Inovasi Kota dan Komunitas Cerdas ITB, Prof Suhono Harso Supangkat, menjelaskan, penilaian pada kategori peduli iklim ini, dilakukan secara khusus untuk mengetahui dukungan kota dalam menghadapi permasalahan perubahan iklim. Dimana perubahan iklim ini berdampak pada panasnya permukaan bumi yang berasal dari peningkatan kadar CO2 atau karbon dioksida.

Suhono menyebutkan, indikator yang menjadi tolok ukur riset antara lain dukungan penggunaan energi terbarukan, meminimalisir kendaraan, dan pengelolaan lingkungan. Selain itu kata dia, riset juga menilik soal substitusi energi, implementasi kendaraan hemat energi, penggunaan kendaraan umum, penambahan ruang terbuka hijau.

“Tolok ukur itu semua digunakan untuk melihat seberapa jauh suatu kota dapat mengelola berbagai sumber daya secara efektif dan efisien,  menyelesaikan berbagai masalah, serta memberikan layanan yang dapat meningkatkan kualitas hidup warganya,” ujarnya.

Dia menekankan, kota menjadi objek riset karena dewasa ini urbanisasi masyarakat sudah tak terbendung. Akibatnya, kepadatan di perkotaan tak bisa dielakkan.

“Kepadatan di kota itu membuat kondisi gas karbon tidak terkontrol, sehingga mempengaruhi iklim,” pungkasnya.***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here