Bogordaily.net – Rima Pratiwi Batubara, S.Hut., M.Si., merupakan dosen dari Program Studi Ekowisata Sekolah Vokasi IPB University serta dosen tetap di Sekolah Tinggi Pariwisata Bogor. Dengan latar belakang pendidikan di bidang konservasi sumber daya hutan dan ekowisata, ia memiliki dedikasi tinggi dalam mengajarkan ekowisata serta menanamkan pentingnya konservasi dalam setiap aspek pariwisata berkelanjutan.
Rima menceritakan awal perjalanannya dalam bidang ekowisata. “Saya lulusan dari pesantren pertanian Darul Fallah. Dari situ, karena sudah terbiasa dengan pertanian, saya berpikir minimal harus tetap berhubungan dengan lingkungan hijau. Namun, pertanian saja rasanya bukan bidang yang terlalu saya minati,” ujarnya.
Setelah berdiskusi dengan seorang guru, ia diarahkan ke bidang kehutanan. Saat itu, ada kesempatan beasiswa di Sekolah Vokasi IPB untuk jenjang diploma tiga (D3), dan di antara beberapa program studi yang tersedia, ia memilih Ekowisata karena terdengar unik dan belum banyak dikenal orang.
“Saya nothing to lose saja, ingin mencoba sesuatu yang baru. Ternyata setelah menjalaninya, saya merasa jurusan ini cocok sekali dengan saya karena saya bukan tipe orang yang suka duduk lama di ruangan,” tambahnya. Ia juga menyadari bahwa ekowisata menawarkan kombinasi antara ilmu konservasi, pariwisata, dan interaksi sosial, yang semakin memperkuat minatnya untuk mendalami bidang ini.
Setelah menyelesaikan pendidikan D3, Rima melanjutkan studi ke jenjang S1 di Universitas Nusa Bangsa Bogor dengan jurusan Konservasi Sumber Daya Hutan dan Ekowisata. Kemudian ia melanjutkan S2 di Institut Pertanian Bogor (IPB) dengan jurusan Manajemen Ekowisata dan Jasa Lingkungan, sembari berkontribusi sebagai dosen.
“Ketika saya lulus D3, saya diminta menjadi asisten di Ekowisata, sekaligus melanjutkan S1. Saat itu, sudah diperbolehkan mengajar walaupun saya belum menyelesaikan S2,” katanya. Pengalaman mengajar sejak dini ini memberinya banyak wawasan tentang metode pengajaran dan cara berinteraksi dengan mahasiswa dari berbagai latar belakang.
Kini, ia mengajar beberapa mata kuliah, seperti Wisata Budaya dan Perilaku, Antropologi Pariwisata, serta Ekowisata di STP Bogor. Di Sekolah Vokasi IPB, ia juga mengampu mata kuliah Psikologi Pengelolaan Pengunjung, Psikologi Wisatawan, Metode Interpretasi, serta Metode Pemanduan dan Komunikasi Wisatawan. Ia juga kerap membimbing mahasiswa dalam proyek penelitian yang berkaitan dengan ekowisata dan konservasi.
Baginya, pengalaman paling berkesan saat menempuh pendidikan adalah ketika ia menjalani praktik lapangan. “Di tingkat satu, kami sudah diperkenalkan dengan alam bebas melalui praktik umum. Saya ingat saat itu kami menginap di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango selama dua minggu. Tidur di tenda, makan bersama, dan menyesuaikan diri dengan ritme alam, semuanya pengalaman yang luar biasa,” kenangnya.
Tak hanya itu, di tingkat dua, ia berkesempatan melakukan praktik di Taman Nasional Ujung Kulon. “Kami harus menemukan lokasi sendiri, tidak diawasi oleh dosen, dan benar-benar berinteraksi langsung dengan pengelola taman nasional. Itu sangat menyenangkan, apalagi wilayahnya mengombinasikan hutan, darat, dan laut,” tambahnya.
Menurutnya, pengalaman lapangan seperti ini menjadi bagian penting dalam pembelajaran ekowisata karena memungkinkan mahasiswa untuk memahami realitas di lapangan dan menghadapi tantangan yang mungkin muncul dalam praktik pengelolaan wisata alam.
Selain itu, pengalaman paling berkesan bagi Rima adalah ketika ia mendapat kesempatan untuk melakukan tugas akhir dengan studi kasus lapangan di Taman Nasional Nino Konis Santana, Timor Leste.
Kesempatan ini datang melalui kerja sama antara IPB dan pemerintah Timor Leste, di mana Rima bersama delapan rekannya serta dua perwakilan dari Kementerian Kehutanan Timor Leste melakukan penelitian di taman nasional tersebut.
Berbeda dengan taman nasional di Indonesia, Nino Konis Santana memiliki daya tarik tersendiri dari segi budaya masyarakat serta sistem pengelolaannya. Selama penelitian, Rima merasakan secara langsung bagaimana interaksi budaya dan ekowisata dapat berjalan berdampingan, terutama dalam pengembangan wisata berbasis kain tenun.
Pengalaman ini semakin memperluas perspektifnya tentang ekowisata, tidak hanya sebatas konservasi alam dan satwa liar, tetapi juga sebagai alat pelestarian budaya lokal. Penelitiannya yang berjudul “Perencanaan Wisata Budaya Berbasis Kain Tenun di Taman Nasional Nino Konis Santana Timor Leste” menjadi salah satu bukti ketertarikannya dalam menggabungkan ekowisata dengan aspek budaya masyarakat setempat.
Di luar aktivitas mengajarnya, Rima Pratiwi Batubara, juga aktif dalam berbagai proyek, salah satunya adalah pengembangan Geopark Ciletuh. Ia menjadi bagian dari tim ahli yang bertugas memastikan kawasan tersebut sesuai dengan indikator geopark yang ditetapkan UNESCO.
“Salah satu tantangannya adalah menyelaraskan berbagai perspektif dalam tim. Saya dari ekowisata, sementara yang lain dari pariwisata umum, budaya, dan sebagainya. Menjelaskan bahwa ada batasan-batasan dalam ekowisata sering kali menjadi tantangan tersendiri,” ungkapnya.
Selain Geopark Ciletuh, ia juga terlibat dalam berbagai inisiatif pelestarian lingkungan dan pengembangan ekowisata berbasis masyarakat, yang bertujuan untuk memberdayakan komunitas lokal dalam mengelola sumber daya alam mereka secara berkelanjutan.
Dalam mengajarkan ekowisata kepada mahasiswa, Rima Pratiwi Batubara, menyadari bahwa salah satu tantangan terbesar adalah mengubah pola pikir mahasiswa yang sudah terbiasa dengan konsep wisata umum.
“Mahasiswa sering berpikir bahwa setelah membayar untuk berwisata, mereka bebas melakukan apa saja. Padahal, dalam ekowisata ada batasan yang harus dipatuhi, terutama terkait konservasi sumber daya alam,” jelasnya. Ia berusaha menanamkan nilai-nilai konservasi dan tanggung jawab lingkungan melalui berbagai metode pembelajaran, termasuk diskusi kasus, simulasi, dan pengalaman lapangan langsung.
Menurutnya, pendekatan ini lebih efektif dalam mengubah cara pandang mahasiswa terhadap ekowisata dibandingkan hanya menyampaikan teori di dalam kelas.
Harapan Rima ke depan adalah agar ekowisata dapat lebih diimplementasikan secara nyata dan tidak hanya sekadar klaim belaka.
“Banyak tempat yang mengklaim sebagai destinasi ekowisata, tetapi kenyataannya tidak menerapkan prinsip-prinsip konservasi dengan baik. Saya berharap semakin banyak pihak yang benar-benar memahami bahwa ekowisata bukan hanya tentang menikmati alam, tetapi juga tentang menjaganya,” tutupnya.
Selain itu, ia berharap semakin banyak generasi muda yang tertarik untuk menekuni bidang ini dan ikut berkontribusi dalam upaya pelestarian lingkungan melalui sektor pariwisata.***
Nayyara Alya Fazila