Bogordaily.net – Pilihan hidup tanpa anak alias childfree kini bukan sekadar tren global, tapi mulai jadi perbincangan serius di Indonesia.
Data mengejutkan muncul dari hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2022 yang dirilis BPS: sebanyak 71.000 perempuan Indonesia mempertimbangkan untuk menikah tanpa memiliki anak.
Angka ini diungkap langsung oleh Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga sekaligus Kepala BKKBN, Wihaji, dalam kuliah umum di Universitas Wahid Hasyim (Unwahas).
Menurut Wihaji, keputusan memilih hidup childfree bukan tanpa alasan. Banyak perempuan muda merasa cemas dengan tekanan ekonomi dan sosial setelah menikah dan punya anak.
Biaya hidup yang tinggi, mahalnya jasa pengasuh, hingga kekhawatiran kehilangan pekerjaan jadi faktor utama.
“Setelah menikah, kalau punya anak, harus berhenti kerja. Dia enggak mau berhenti, makanya enggak punya anak. Ketakutan ekonomi juga besar, untuk bayar pembantu mahal, masak orang tua disuruh jaga anak. Ditambah lagi terjadi pergeseran budaya,” kata Wihaji.
Meski begitu, Wihaji menegaskan bahwa keinginan untuk hidup tanpa anak masih bersifat potensi, belum tentu terjadi di lapangan.
Ia yakin karakter masyarakat Indonesia masih menjunjung tinggi nilai keluarga dan keturunan.
Namun, ia tetap mengingatkan dampak besar dari tren ini jika terjadi secara masif.
“Kalau semua orang memilih childfree, maka 50 tahun ke depan negara bisa bubar. Siapa yang akan meneruskan profesi, industri, bahkan media jika tak ada generasi penerus?” ujarnya.
Untuk menjawab tantangan ini, BKKBN kini meluncurkan program TAMASYA, singkatan dari Taman Asuh Sayang Anak.
Program ini dirancang untuk mendampingi keluarga muda yang bekerja dalam proses pengasuhan anak.
Bukan sekadar penitipan anak, TAMASYA diharapkan menjadi sistem dukungan nyata agar para orang tua tidak merasa sendirian dalam membesarkan anak.
“Kalau kamu ketakutan karena biaya atau kehilangan pekerjaan, saya siap hadirkan solusinya. Tamasya bukan tempat nitip anak, tapi pendampingan intensif bagi orang tua muda yang butuh dukungan,” jelas Wihaji.***