Monday, 12 January 2026
HomeHiburanAurelie Moeremans Ungkap Masa Muda yang Direnggut lewat Buku Broken Strings

Aurelie Moeremans Ungkap Masa Muda yang Direnggut lewat Buku Broken Strings

Bogordaily.net – Aurelie Moeremans, membuka lembaran masa lalu melalui sebuah memoar berjudul Broken Strings: Fragments of a Stolen Youth.

Buku ini bukan sekadar catatan personal, melainkan kesaksian tentang relasi manipulatif yang dialaminya sejak masih berusia 15 tahun, sebuah fase hidup yang seharusnya menjadi ruang tumbuh, bukan medan luka.

Alih-alih menjual bukunya secara komersial, Aurelie justru membagikannya secara gratis kepada publik. Informasi pengunduhan dapat diakses langsung melalui tautan yang tertera di bio Instagram resmi miliknya.

Langkah ini menegaskan bahwa tujuan utama memoar tersebut bukan keuntungan materi, melainkan keberpihakan pada para penyintas yang kerap terbungkam.

Dalam Broken Strings, Aurelie menuturkan pengalamannya menjalin hubungan dengan seorang pria dewasa yang ia samarkan dengan nama Bobby.

Relasi tersebut digambarkan penuh dominasi, manipulasi psikologis, eksploitasi emosional, hingga kekerasan yang berlangsung secara bertahap namun sistematis.

Dampaknya tidak hanya menghancurkan rasa percaya diri, tetapi juga merampas masa remaja yang seharusnya aman dan membahagiakan.

Melalui pengantar bukunya, Aurelie menegaskan bahwa memoar ini lahir dari proses refleksi panjang.

“Saya ingin kisah ini menjadi pengingat bahwa tidak ada seorang pun yang pantas kehilangan masa mudanya karena relasi yang salah,” tulis Aurelie, seperti dikutip dari unggahan Instagram @aurelie.

Makna Broken Strings dan Luka yang Perlahan Pulih

Judul Broken Strings menjadi metafora kuat atas kondisi batin Aurelie kala itu, ibarat senar yang putus, kehilangan arah, kendali, dan suara atas hidupnya sendiri.

Sementara subjudul Fragments of a Stolen Youth merepresentasikan potongan-potongan masa muda yang tercerabut sebelum waktunya.

Namun, buku ini tidak berhenti pada narasi penderitaan. Aurelie juga menuturkan proses pemulihan mental yang ia jalani selama bertahun-tahun.

Menulis menjadi salah satu cara baginya untuk memahami trauma, berdamai dengan diri sendiri, dan membangun ulang identitas yang sempat runtuh.

Memoar ini sekaligus mengangkat isu kesehatan mental, resiliensi, dan pentingnya ruang aman bagi penyintas kekerasan dalam relasi personal.

Salah satu tema sentral yang diulas dalam Broken Strings adalah manipulasi emosional. Aurelie mengisahkan bagaimana Bobby secara perlahan mengikis kepercayaan dirinya, menjauhkan dirinya dari keluarga dan lingkungan terdekat, serta menciptakan ketergantungan emosional yang berbahaya.

“Saya dibuat percaya bahwa tanpa dia, saya bukan siapa-siapa,” tulis Aurelie.

Pola tersebut selaras dengan karakteristik hubungan beracun (toxic relationship), di mana pelaku kerap menggunakan gaslighting, rasa bersalah, serta isolasi sosial untuk mempertahankan kendali atas korban.

Kontrol tidak berhenti pada aspek emosional. Dalam buku ini, Aurelie juga menggambarkan bagaimana ruang geraknya semakin menyempit, mulai dari pilihan karier, pergaulan, hingga keputusan hidup yang seharusnya menjadi hak personalnya.

Ia juga menyinggung pengalaman kekerasan fisik yang dialaminya, disampaikan tanpa detail vulgar.

Aurelie berharap kisahnya dapat menjangkau lebih banyak orang, terutama mereka yang tengah terjebak dalam relasi serupa.

“Jika kisah saya bisa membuat satu orang saja merasa tidak sendirian, maka buku ini sudah menjalankan tujuannya,” ungkap Aurelie melalui akun Instagram resminya (@aurelie).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here