Bogordaily.net – Ebook Broken Strings tidak datang dari penerbit besar. Tidak juga dari meja editor yang rapi dengan coretan merah. Ia lahir sunyi, dari seorang perempuan yang memutuskan menulis sendiri, menerbitkan sendiri, lalu membagikannya gratis kepada siapa pun yang ingin membaca. Namanya Aurelie Moeremans.
Buku memoar nonfiksi berjudul Broken Strings: Fragments of a Stolen Youth itu dirilis secara mandiri pada 10 Oktober 2025. Tanpa seremoni. Tanpa konferensi pers. Hanya sebuah tautan unduhan dalam dua bahasa—Indonesia dan Inggris—yang perlahan menyebar dari satu pembaca ke pembaca lain. Hingga awal 2026, buku itu justru ramai diakses. Bukan karena sensasi. Melainkan karena isinya terasa dekat, relevan, dan—bagi sebagian orang—terlalu nyata.
Aurelie Moeremans bukan nama asing di dunia hiburan. Ia aktris, model, sekaligus penyanyi berdarah Belgia–Indonesia, lahir di Brussels pada 8 Agustus 1993. Namun buku ini bukan tentang karier. Bukan tentang gemerlap panggung. Buku ini tentang masa muda yang patah. Tentang pengalaman yang, selama bertahun-tahun, lebih banyak disimpan daripada diceritakan.
Versi bahasa Indonesianya diberi judul Broken Strings: Kepingan Masa Muda yang Patah. Judul yang terasa sederhana, tetapi menyimpan makna berat. “Broken Strings” digunakan sebagai metafora—tentang senar yang putus, tentang kendali yang diambil orang lain, tentang usia remaja yang tidak pernah tumbuh sebagaimana mestinya.
Isinya tidak berputar-putar. Aurelie menulis secara kronologis. Dari pertemuan awal dengan seorang pria yang lebih tua—disebut menggunakan nama samaran—hingga perubahan dinamika relasi yang perlahan menjadi tidak sehat. Ia menuliskan praktik grooming, manipulasi emosional, dan kekerasan psikologis yang dialaminya sejak sekitar usia 15 tahun. Tanpa dramatisasi. Tanpa penghalusan bahasa. Semua disampaikan apa adanya, kadang terasa dingin, justru karena kejujurannya.
Tidak ada penerbit yang menyaring. Tidak ada editor profesional yang “merapikan”. Naskah disusun dan dipublikasikan secara independen. Mungkin karena itu ceritanya terasa mentah. Tapi justru di situlah kekuatannya. Pembaca diajak melihat bagaimana relasi yang tampak biasa dapat berubah menjadi jerat. Bagaimana kontrol dibangun perlahan. Bagaimana korban sering kali tidak sadar sedang dilukai.
Buku ini tidak menawarkan solusi instan. Ia hanya bercerita—tentang pengenalan diri, tentang proses pemulihan yang panjang, tentang keberanian untuk memberi nama pada luka. Dalam konteks itulah ebook Broken Strings menjadi lebih dari sekadar memoar pribadi. Ia menjelma menjadi pengingat tentang pentingnya perlindungan anak dan remaja, tentang risiko grooming yang kerap luput dikenali, bahkan oleh lingkungan terdekat.
Aurelie memilih membagikan buku ini secara gratis. Ada tautan unduhan bahasa Indonesia. Ada pula versi bahasa Inggris. Distribusi terbuka itu bukan kebetulan. Aksesibilitas menjadi bagian dari pesan. Semakin banyak yang membaca, semakin besar peluang orang lain mengenali tanda-tanda bahaya lebih awal.
Hingga kini, sesuai keterangan penulis, Broken Strings masih tersedia untuk diunduh gratis melalui kanal resmi yang terus diperbarui. Dan mungkin, di sanalah letak keberanian terbesar dari ebook Broken Strings: tidak hanya berani membuka masa lalu, tetapi juga membiarkannya dibaca siapa saja—demi masa muda orang lain yang belum patah.***
