Monday, 19 January 2026
HomeHiburanNama Nikita Willy Diseret Imbas Broken Strings, Aurelie Moeremans Minta Warganet Stop...

Nama Nikita Willy Diseret Imbas Broken Strings, Aurelie Moeremans Minta Warganet Stop Bully Karakter Dalam Buku

Bogordaily.net –  Gelombang perbincangan soal buku Broken Strings mendadak melebar ke mana-mana. Sejumlah warganet menyeret nama Nikita Willy dan melayangkan hujatan, usai buku yang mengangkat kisah masa lalu traumatik Aurelie Moeremans viral di media sosial.

Situasi tersebut membuat Aurelie akhirnya turun tangan langsung. Lewat akun Threads pribadinya pada 16 Januari 2026, Aurelie menyampaikan klarifikasi sekaligus permintaan tegas agar publik tidak menjadikan buku tersebut sebagai alat untuk menebak-nebak atau menyerang sosok tertentu.

“Tolong jangan membully atau menyerang karakter-karakter yang ada dalam buku, apalagi kalau masih sebatas tebak-tebakan,” ujarnya.

Aurelie mengaku merasa tidak nyaman melihat asumsi liar yang berkembang di media sosial. Menurutnya, banyak komentar warganet justru bergeser dari substansi cerita dan berubah menjadi serangan personal terhadap sejumlah figur publik.

“Fokus dari cerita ini bukan untuk menghakimi, apalagi mengeroyok. Fokusnya adalah pengalaman, luka, dan proses penyembuhan yang aku bagikan dengan sangat jujur,” katanya.

Menanggapi Klaim dan Spekulasi Publik

Dalam klarifikasinya, Aurelie juga menyinggung munculnya Roby Tremonti ke ruang publik yang meminta penegasan terkait karakter bernama ‘Bobby’ dalam Broken Strings.

Ia menegaskan bahwa respons individu terhadap karya tersebut merupakan urusan masing-masing, namun meminta publik tidak melampaui batas dengan spekulasi dan serangan.

“Kalau ada orang yang mengaku sendiri itu urusan masing-masing. Kalian bebas berpendapat soal itu. Tapi kalau hanya menebak-nebak lalu menyerang please jangan,” imbuhnya.

Pernyataan tersebut menjadi penegasan bahwa buku Broken Strings tidak dimaksudkan sebagai petunjuk untuk membongkar identitas atau menghakimi pihak tertentu.

Aurelie menilai, penafsiran yang berlebihan justru berpotensi melukai banyak pihak, termasuk korban itu sendiri.

Lebih lanjut, Aurelie menekankan bahwa sejak awal ia menulis Broken Strings bukan untuk menciptakan “target” baru bagi perundungan di dunia maya.

Buku tersebut ditulis sebagai ruang berbagi pengalaman, refleksi, dan proses penyembuhan atas luka masa lalu.

Aurelie berharap kisah yang ia bagikan justru dapat menjadi pintu kesadaran bagi publik, sekaligus membantu mereka yang pernah atau sedang mengalami pengalaman serupa.

“Let’s keep this space kind, aman, dan penuh empati,” ujarnya.*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here