Friday, 23 January 2026
HomeViralTolak Pemalakan, Penumpang Angkot Lawan Preman, Viral!

Tolak Pemalakan, Penumpang Angkot Lawan Preman, Viral!

Bogordaily.net – Aksi berani seorang penumpang pria mengusir preman yang diduga hendak memalak sopir angkot terekam kamera. Rekaman itu menyebar cepat.

Dari satu ponsel ke ponsel lain. Dari satu grup WhatsApp ke grup yang lain. Lalu tiba di beranda media sosial, menjadi tontonan publik, sekaligus bahan perenungan bersama.

Kejadiannya sederhana. Tapi maknanya besar. Di dalam sebuah angkot yang sempit, panas, dan penuh penumpang, seorang pria memilih tidak diam. Ia melihat ada yang tidak beres. Ada gerak-gerik yang mengarah pada pemalakan.

Ada ancaman yang bisa membuat sopir angkot kembali menunduk, kembali menyerah, kembali membayar “uang keamanan” yang tidak pernah benar-benar menghadirkan rasa aman.

Tanpa banyak bicara, penumpang itu berdiri. Suaranya tegas. Gesturnya jelas. Ia meminta orang yang diduga preman itu turun. Bukan dengan senjata. Bukan dengan kekerasan berlebihan. Tapi dengan keberanian. Dengan keyakinan bahwa ruang publik harus dijaga bersama.

Di situlah letak keistimewaannya. Di tengah budaya “asal selamat” yang sering membuat orang memilih diam, pria itu mengambil risiko.

Ia tahu bisa saja terjadi cekcok. Bisa saja berujung keributan. Tapi ia tetap melangkah. Demi satu tujuan sederhana: menjaga keamanan dan keselamatan bersama di dalam angkutan umum.

Respons publik pun mengalir deras. Warganet memuji. Ada yang menyebutnya pahlawan jalanan. Ada yang mengucapkan terima kasih. Ada pula yang berharap keberanian semacam ini menular. Karena yang dilawan bukan hanya satu orang. Yang dilawan adalah kebiasaan buruk yang sudah terlalu lama dibiarkan tumbuh.

Peristiwa ini sekaligus membuka luka lama: persoalan premanisme di transportasi umum. Masalah klasik. Berulang. Seperti kaset lama yang terus diputar. Sopir takut. Penumpang resah. Tapi sering kali aparat baru bergerak setelah viral.

Padahal, transportasi umum adalah urat nadi kota. Tempat bertemunya buruh, pelajar, pedagang, ibu rumah tangga, dan pekerja kantoran. Jika di ruang sekecil angkot saja orang tidak merasa aman, bagaimana kita bicara soal kota yang ramah dan manusiawi?

Aksi berani penumpang ini seharusnya menjadi alarm keras. Bukan hanya untuk netizen. Tapi juga untuk pemerintah daerah, pengelola transportasi, dan aparat penegak hukum. Keamanan tidak boleh bergantung pada keberanian individu semata. Harus ada sistem. Harus ada pengawasan. Harus ada kehadiran negara.

Namun satu hal patut dicatat. Keberanian itu nyata. Ia hadir dari orang biasa. Tanpa seragam. Tanpa pangkat. Tanpa kamera media. Hanya dengan niat baik.

Mungkin inilah pesan terpenting dari video itu: perubahan bisa dimulai dari satu orang yang memilih tidak diam. Dan semoga, dari satu aksi kecil di dalam angkot itu, lahir kesadaran besar bahwa transportasi umum harus menjadi ruang yang aman, nyaman, dan bermartabat untuk semua.***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here