Bogordaily.net — Puluhan aktivis mahasiswa generasi 1980-an yang tergabung dalam Badan Koordinasi (BAKOR) Mahasiswa Bandung menggelar silaturahmi di Doea Tjangkir, Bogor, Sabtu (24/1/2026). Pertemuan ini menjadi momentum konsolidasi sekaligus ruang diskusi strategis untuk membaca arah kondisi politik, ekonomi, dan demokrasi nasional.
Sekitar 40 alumni aktivis BAKOR yang aktif sejak 1988 hadir dalam forum tersebut. Saat ini, para anggota diketahui telah berkiprah di berbagai sektor, mulai dari politik, birokrasi, akademisi, hingga sektor swasta.
Diskusi berlangsung intens dengan sorotan utama pada menguatnya pengaruh oligarki dalam struktur ekonomi nasional serta tantangan stabilitas demokrasi di tengah dinamika global dan domestik.
Salah satu tokoh BAKOR Bandung, Saleh Hidayat, menyebutkan pertemuan ini menjadi upaya menyatukan kembali resonansi pemikiran para aktivis lintas generasi.
“Banyak kawan sudah tersebar di berbagai lini. Forum ini penting untuk menyamakan keprihatinan sekaligus membaca arah bangsa ke depan,” ujar Saleh yang akrab disapa Dayat.
Dayat menegaskan, sejak awal berdiri, BAKOR lahir dari kegelisahan terhadap pola pengelolaan negara di era Orde Baru, terutama dominasi militer serta eksploitasi sumber daya alam yang dinilai hanya menguntungkan kelompok elite tertentu.
Ia menilai, sejumlah praktik lama tersebut kini mulai menunjukkan gejala berulang dalam bentuk baru.
“Spirit BAKOR sejak awal adalah koreksi total agar pembangunan benar-benar berpihak pada rakyat, bukan pada kepentingan segelintir elite,” tegasnya.
Dalam forum tersebut, para peserta juga menyoroti masih lebarnya kesenjangan kesejahteraan dan belum meratanya manfaat pertumbuhan ekonomi nasional di berbagai daerah.
Sementara itu, Rizal Darmaputra menambahkan dari perspektif hubungan internasional, demokrasi Indonesia masih menghadapi tantangan struktural.
“Demokrasi kita masih dalam fase pembelajaran panjang. Tekanan geopolitik global, ekonomi dunia, serta dinamika dalam negeri membuat konsolidasi demokrasi menjadi tidak mudah,” ujarnya.
Pertemuan ini diharapkan menjadi titik awal penguatan jejaring aktivis lintas generasi untuk mendorong agenda reformasi berkelanjutan, sekaligus menjadi ruang refleksi atas arah pembangunan nasional ke depan.***

