Friday, 30 January 2026
HomeKabupaten BogorTembok Penahan Tanah Ambruk di Bondongan Bogor, 1 Warga Tewas Tertimbun

Tembok Penahan Tanah Ambruk di Bondongan Bogor, 1 Warga Tewas Tertimbun

Bogordaily.net – Hujan turun seperti biasa di Bogor yang sejak pagi mengisi selokan dan meresap ke tanah-tanah miring di selatan kota.

Namun, di Kelurahan Bondongan, Bogor Selatan, hujan itu berubah menjadi kabar duka.

Sekitar pukul 18.20 WIB, sebuah tembok penahan tanah setinggi dua meter tiba-tiba ambruk. Tidak ada aba-aba. Tidak ada suara peringatan. Tembok itu roboh begitu saja menimpa seorang perempuan yang sedang melintas di depan rumahnya sendiri.

Namanya Aminah.

Warga setempat mengenalnya sebagai sosok sederhana. Sore itu, selepas salat magrib, ia keluar rumah. Warung kecil di depan rumah hendak dibereskan. Aktivitas rutin. Hal sepele. Tapi justru di momen itulah maut datang tanpa mengetuk pintu.

Ketua RT setempat, Surya Atmaja, berdiri di lokasi dengan wajah lelah. “Korban keluar mau beres-beres warung. Lagi jalan di depan rumah. Tiba-tiba tembok ambruk,” ujarnya lirih.

Lokasi kejadian berada di gang sempit permukiman padat. Jalan menurun. Rumah-rumah berdempetan. Di sisi gang itu, tembok penahan tanah berdiri sejak lama. Menahan beban tanah yang setiap musim hujan selalu menyimpan ancaman.

Ketika tembok runtuh, material batu dan tanah langsung menutup jalan setapak. Lorong kecil itu berubah menjadi tumpukan puing. Rumah korban, ironisnya, tetap berdiri utuh. Yang hancur justru jalur di depan pintu rumah—tempat Aminah melangkah.

Proses evakuasi tidak mudah.

Batu-batu besar menyulitkan warga dan petugas. Mereka bekerja hati-hati. Tidak bisa sembarang mengangkat. Ada tubuh manusia di bawah reruntuhan.

“Kira-kira satu jam evakuasi. Susah karena batu. Kita tidak bisa kasar, takut melukai jenazah,” katanya.

Satu jam yang terasa jauh lebih lama bagi keluarga korban. Satu jam yang penuh doa, air mata, dan harap yang perlahan padam.

Aminah dinyatakan meninggal dunia di lokasi kejadian. Jenazahnya kemudian dibawa ke rumah sakit oleh petugas.

Senja Bogor hari itu ditutup dengan sunyi yang berbeda.

Bukan sunyi karena hujan reda. Tapi sunyi karena satu nyawa melayang—akibat tembok yang runtuh, tanah yang jenuh oleh air, dan kota yang masih menyimpan banyak dinding rapuh di lereng-lerengnya.

Bogor kembali diingatkan: hujan bukan sekadar air dari langit. Kadang, ia datang membawa peringatan. Kadang pula, membawa duka.***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here