Friday, 30 January 2026
HomeKota BogorTanah Bergerak di Batutulis, Jalur Motor Bogor Retak dan Ditutup Sementara

Tanah Bergerak di Batutulis, Jalur Motor Bogor Retak dan Ditutup Sementara

Bogordaily.net – Bogor kembali diuji. Bukan oleh banjir besar. Bukan pula oleh longsor yang tiba-tiba. Kali ini yang bergerak pelan tapi pasti adalah tanah. Retak. Lalu turun. Tepat di Jalan Saleh Danasamsita, Batutulis, Bogor Selatan.

Jalur yang sehari-hari dilalui ribuan pengendara motor itu kini berubah wajah: bergaris patah, sedikit amblas, dan tampak tak lagi rata.

Penyebabnya klasik. Hujan deras beberapa hari terakhir. Air masuk ke pori-pori tanah. Beban aspal menekan. Gravitasi bekerja tanpa kompromi. Maka tanah pun menyerah.

Wali Kota Bogor Dedie Rachim tidak mau ambil risiko. Ia langsung memerintahkan tim teknis turun ke lokasi. Jalan ditutup sementara. Bukan untuk bergaya. Tapi untuk memastikan satu hal: aman atau tidak.

“Saya minta dicek menyeluruh. Kalau masih aman kita perbaiki dan bisa dibuka kembali,” katanya, Jumat siang. Kalimat singkat. Tapi penuh makna. Di kota hujan seperti Bogor, satu retakan kecil bisa menjadi pintu masuk bencana besar.

Yang dikhawatirkan bukan sekadar aspal pecah. Yang lebih menakutkan adalah apa yang ada di bawahnya. Apakah tanahnya masih kuat? Atau sudah rapuh seperti kue basah? Jika yang kedua, turap harus dibangun. Struktur harus diperkuat. Tidak cukup hanya menambal permukaan.

Karena itu, tim ahli diberi ruang bekerja. Jalur motor ditutup. Pengendara dialihkan. Bagi warga, ini mungkin merepotkan. Tapi jauh lebih baik daripada membiarkan risiko terbuka.

Pemerintah Kota Bogor paham betul, cuaca ekstrem bukan sekadar istilah di layar televisi. Ia nyata. Ia merusak. Dan ia datang tanpa mengetuk pintu. Maka pemantauan titik rawan kini diperketat. Dari Bogor Selatan sampai Bogor Utara. Dari lereng kecil sampai bantaran sungai.

Pesan pemerintah pun sederhana: waspada. Terutama saat langit gelap dan hujan turun deras. Jangan memaksa melintas di jalur yang sudah memberi tanda bahaya. Retakan itu bukan sekadar garis di aspal. Ia peringatan.

Bogor memang kota hujan. Tapi bukan berarti harus pasrah. Yang dibutuhkan sekarang bukan hanya payung, tapi kesiapan teknis, keputusan cepat, dan keberanian menutup jalur demi keselamatan warga. Karena pada akhirnya, yang terpenting bukan cepat sampai tujuan. Tapi selamat sampai rumah.***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here