Bogordaily.net – Kampung Benda Kaum belum sepenuhnya terjaga. Gang Comel di Jalan Taman Cimanggu, Kota Bogor, masih lengang. Namun pukul 10.15 WIB, Selasa (3/2/2026), suasana mendadak berubah.
Bukan oleh teriakan. Bukan pula oleh sirene. Melainkan oleh bau menyengat yang perlahan menyusup ke hidung warga.
Bau itulah yang memaksa orang-orang berhenti beraktivitas. Saling pandang. Saling curiga. Dari satu kamar kos yang pintunya tertutup rapat.
Pintu itu akhirnya dijebol.
Di dalamnya, seorang pria tergeletak tak lagi bernapas. Sunyi. Kaku. Usianya 34 tahun. Hidupnya, sehari-hari, dihabiskan seorang diri di kamar kos itu.
Tidak banyak yang tahu kegiatannya. Tidak pula sering terlihat keluar masuk. Sejak Minggu malam, menurut warga, ia sudah tak tampak.
Berita penemuan mayat itu cepat menyebar. Dari mulut ke mulut. Dari gang ke gang. Ketua RT dan RW dipanggil. Polisi pun datang.
Pak Usman, Ketua RW setempat, menyampaikan dugaan awal: korban kemungkinan meninggal akibat penyakit yang dideritanya. Dugaan. Belum kepastian.
Karena itu, prosedur tetap berjalan. Polisi melakukan pemeriksaan awal di lokasi. Jenazah kemudian dievakuasi ke rumah sakit terdekat untuk pemeriksaan lanjutan.
Di Gang Comel, siang itu, orang-orang kembali berkumpul. Membicarakan satu hal yang sama. Tentang hidup yang bisa berhenti diam-diam. Di balik pintu kamar kos. Tanpa suara. Tanpa tanda.
Kota terus bergerak. Jalan tetap ramai. Tetapi satu kamar kos di Cimanggu hari itu menyisakan cerita sunyi: tentang seorang pria yang pergi sendirian, dan bau yang menjadi penanda terakhir keberadaannya.***
