Bogordaily.net – Brand Thanksinsomnia punya siapa? pertanyaan itu sering muncul, bahkan sebelum orang sempat melihat detail jahitan atau membaca cerita di balik label streetwear yang satu ini.
Jawabannya sederhana, tapi perjalanannya panjang: Mohan Hazian. Anak muda dari Lampung yang memilih insomnia sebagai bahan bakar mimpi, lalu mengubahnya menjadi salah satu brand lokal paling berisik di jalanan urban Indonesia.
Bisa dibayangkan Mohan di usia awal 20-an. Bukan di ruang rapat ber-AC. Tapi di ruang sempit, ditemani mesin jahit Juki bekas, bau kain, dan kepala penuh ide. Tahun 2011.
Modalnya tak sampai belasan juta. Bahkan produk pertamanya bukan kaos bukan juga jaket. Tas skateboard. Spesifik. Niche. Nekat.
Di situlah menariknya cerita ini. Brand Thanksinsomnia punya siapa bukan sekadar soal kepemilikan, tapi soal keberanian mengambil keputusan keluar dari jalur aman.
Mohan sempat jadi sales rokok, pegawai toko buku, hingga pekerja konveksi. Pekerjaan-pekerjaan yang tidak glamor, tapi justru memberi pemahaman paling dasar: bagaimana barang dijual, bagaimana konsumen berpikir, dan bagaimana produk harus “punya cerita”.
Nama “Thanksinsomnia” sendiri bukan hasil rapat branding berjam-jam. Ia menemukannya di akun Twitter temannya, Agung Firdaus. Nama itu terasa pas.
Terasa gelisah. Terasa muda. Dan insomnia kita tahu adalah sahabat setia orang-orang yang sedang mengejar mimpi besar.
Ciri khas brand ini sederhana tapi efektif: jangan terlalu sering restock. Bikin orang menunggu. Bikin orang berebut. Sekali rilis, habis. Dari kaos oversize, jaket, vest, sampai sepatu dan tas, semua membawa DNA yang sama: street, berani, dan sedikit bandel. Harga? Mulai puluhan ribu sampai jutaan. Tapi nilai utamanya bukan di angka, melainkan di identitas.
Strateginya juga tidak setengah-setengah. Kolaborasi dengan Jujutsu Kaisen, Gundam, Indomie, hingga brand luar negeri seperti Takara Wong dari Thailand. Bukan kolaborasi asal tempel logo. Tapi benar-benar menyatu dengan karakter Thanksinsomnia. Media sosial dimanfaatkan bukan sekadar etalase, tapi arena membangun hype. Website dibuat ringkas. Beli—bayar—tunggu paket. Selesai.
Tahun 2015, Jakcloth jadi saksi. Booth Thanksinsomnia dipadati antrean panjang. Bukan karena diskon besar-besaran, tapi karena nama itu sudah lebih dulu berisik dari mulut ke mulut.
Lalu kembali lagi ke pertanyaan awal, brand Thanksinsomnia punya siapa. Ia milik Mohan Hazian, lahir 4 Februari 1990, Lampung. Creative director, founder, sekaligus penjaga arah brand.
Di Instagram, ia dikenal lewat akun @mohanhazian. Di rumah, ia adalah suami dari Alya Putri Zayyan Shafa—sosok yang jarang tampil berlebihan di ruang publik, tapi disebut-sebut sebagai pendukung setia perjalanan bisnisnya.
Hari ini, Thanksinsomnia sudah punya toko offline, komunitas loyal, dan nama yang dikenal sampai luar negeri. Tapi ceritanya tetap tentang hal yang sama: visi, konsistensi, dan keberanian menolak jalan pintas.
Dan mungkin, di situlah jawabannya terasa lengkap. Brand Thanksinsomnia punya siapa? Ia milik seseorang yang berani begadang demi ide—lalu mengubah insomnia menjadi identitas.***
