Bogordaily.net – Keberadaan Masjid Raya Bogor tidak hanya menjadi simbol spiritual bagi warga, tetapi juga mencerminkan perjalanan panjang pembangunan keagamaan di Bogor.
Masjid ini lahir dari gagasan besar yang muncul pada era kepemimpinan Wali Kota Bogor saat itu, Letkol Ahmad Syam, sekitar pertengahan dekade 1960-an.
Inisiatif pendirian masjid raya tersebut mulai dirancang sejak 1965, sebagai bagian dari visi menghadirkan pusat aktivitas Islam yang representatif di jantung kota.
Proses pembangunan tidak berlangsung instan. Peletakan batu pertama baru dilakukan pada 1970, dan setelah melewati berbagai tahapan konstruksi, rumah ibadah megah ini akhirnya resmi digunakan pada 1979.
Mengusung Arsitektur Bernuansa Timur Tengah
Secara arsitektural, masjid ini dirancang oleh arsitek kenamaan Indonesia, Friedrich Silaban atau yang lebih dikenal sebagai FX Silaban. Ia dikenal luas sebagai perancang sejumlah bangunan monumental nasional.
Konsep desain yang diusung mengadopsi gaya arsitektur Timur Tengah, terlihat dari kubah besar yang menjadi ciri khas serta tata ruang yang lapang dan simetris.
Karakter desain tersebut menghadirkan nuansa religius yang kuat sekaligus memberikan kesan megah dan terbuka bagi jamaah.
Namun sejak awal, masjid ini tidak hanya direncanakan sebagai tempat pelaksanaan salat berjamaah.
Pemerintah daerah kala itu telah memproyeksikannya sebagai pusat pembinaan umat melalui wadah bernama Pusat Pengembangan Islam Bogor (PPIB).
Fungsi tersebut memperluas peran masjid menjadi sentra dakwah, pendidikan, dan kegiatan sosial keagamaan.
Memasuki bulan suci Ramadan, denyut aktivitas di Masjid Raya Bogor meningkat tajam. Beragam kegiatan keagamaan digelar secara rutin, mulai dari kajian harian, ceramah menjelang berbuka, hingga tadarus Al-Qur’an yang diikuti berbagai kalangan usia.
Tak hanya itu, masjid ini juga menjadi lokasi penyediaan takjil dan makanan berbuka puasa dalam jumlah besar.
Setiap hari, sekitar 300 hingga 500 porsi hidangan berbuka disiapkan untuk jamaah. Kegiatan sosial ini berjalan berkat partisipasi aktif masyarakat dan donatur yang ingin berbagi keberkahan Ramadan.
Antusiasme jamaah yang memadati area masjid setiap sore hingga malam hari menunjukkan kuatnya posisi Masjid Raya Bogor sebagai pusat kegiatan spiritual warga Kota Bogor.
Berdiri di Lahan Luas dan Jadi Titik Pemberangkatan Haji
Masjid Raya Bogor berdiri di atas lahan seluas lebih dari satu hektare. Area yang luas tersebut memungkinkan penyelenggaraan berbagai agenda berskala besar, termasuk kegiatan keagamaan tingkat kota.
Selain menjadi pusat ibadah harian, masjid ini juga kerap difungsikan sebagai titik pemberangkatan jamaah haji asal Bogor. Momentum pelepasan calon jamaah haji di lokasi ini menjadi tradisi yang memperkuat nilai historis dan emosional bangunan tersebut.
Fasilitas penunjang yang tersedia pun cukup lengkap, mulai dari ruang pertemuan, area pendidikan, hingga sarana pendukung lainnya yang mempertegas peran masjid sebagai episentrum kegiatan Islam di Kota Bogor.
Lebih dari empat dekade sejak diresmikan, Masjid Raya Bogor tetap menjadi landmark religius yang memiliki nilai historis sekaligus fungsional.
Keberadaannya bukan sekadar simbol arsitektur megah, tetapi juga ruang hidup bagi aktivitas dakwah, pendidikan, sosial, dan pembinaan umat.
Di tengah perkembangan kota yang kian pesat, Masjid Raya Bogor terus mempertahankan perannya sebagai pusat spiritual sekaligus ruang kebersamaan masyarakat.
