Baogordaily.net – Tahun 1727 menjadi salah satu periode paling mengguncang di wilayah Priangan. Seorang tokoh penting, Aria Wiratanu III, ditemukan tewas secara tragis dengan belasan luka tusukan senjata tajam jenis condre.
Peristiwa ini tak hanya menyisakan duka, tetapi juga melahirkan dua versi cerita yang bertolak belakang dan terus hidup hingga kini.
Di satu sisi, legenda lokal menyebut bahwa kematian sang bupati dilatarbelakangi kisah cinta terlarang. Ia dikabarkan jatuh hati pada seorang gadis cantik yang telah memiliki kekasih.
Hubungan tersebut memicu kecemburuan hingga berujung pada aksi balas dendam berdarah yang dikenal sebagai rajapati.
Namun di sisi lain, catatan arsip kolonial Belanda menghadirkan narasi berbeda. Kematian Aria Wiratanu III disebut bukan karena urusan asmara, melainkan akibat konflik sosial yang lebih besar.
Dalam dokumen tersebut, sang bupati dikaitkan dengan praktik penindasan terhadap petani kopi di wilayah Priangan. Ketegangan yang memuncak akhirnya memicu pemberontakan, yang berujung pada kematian tragisnya di tengah huru-hara rakyat.
Dua versi ini antara legenda cinta dan realitas politik, menjadi perdebatan menarik yang membuka ruang tafsir sejarah yang lebih luas.
Lalu, bagaimana kisah yang berbeda ini bisa dirangkai menjadi satu narasi utuh dalam sebuah karya sastra?
Untuk menjawab pertanyaan tersebut, sebuah diskusi buku bertajuk “Cinta, Kopi dan Kekuasaan” akan digelar di kawasan sejuk kaki Gunung Gede.
Acara ini akan mengupas bagaimana sejarah, mitos, dan kekuasaan dapat saling bertaut dalam sebuah novel, sekaligus mengajak peserta melihat kembali peristiwa masa lalu dari berbagai sudut pandang.
Diskusi Buku “Cinta, Kopi dan Kekuasaan”
Kamis, 2 April 2026
10.00 – 13.00 WIB
Kopi Sarongge
Gratis dan terbuka untuk umum
