Friday, 10 April 2026
HomePolitikPeta Baru Usai Musda Golkar Jabar, Semua Kubu Diklaim Melebur

Peta Baru Usai Musda Golkar Jabar, Semua Kubu Diklaim Melebur

Bogordaily.net – Musda Golkar Jabar selalu menyisakan cerita. Bukan sekadar soal siapa menang, siapa kalah. Tapi tentang bagaimana kalah itu dikelola—agar tidak terasa seperti kalah.

Di Partai Golkar Jawa Barat, cerita itu kini mengalir ke satu nama: Ahmad Hidayat.

Ia tidak jadi maju. Tapi justru di situlah ia “masuk”.

Asep Suparman, anggota DPD Golkar Jabar, bicara dengan nada tenang. Tidak ada kesan konflik. Tidak ada aroma pecah. Yang ada justru satu kata: kompromi.

“Pak Ahmad bukan mundur untuk menyelamatkan diri,” katanya di Bandung, Rabu 8 April 2026. “Ia memastikan gerbongnya tetap ikut.”

Gerbong. Kata itu penting.

Dalam politik, yang dijaga bukan hanya posisi. Tapi juga orang-orang di belakangnya. DPD, ormas, simpul-simpul kekuatan. Semua harus tetap merasa punya rumah.

Dan rumah itu sekarang sedang ditata ulang.

Nama Ahmad Hidayat menguat sebagai Sekretaris DPD Golkar Jabar. Bukan posisi sembarangan. Sekretaris adalah mesin. Ia yang memastikan organisasi bergerak—atau justru macet.

Asep melihat itu bukan kebetulan. Ia menyebut ada korelasi kuat antara keputusan mundur dan peluang posisi strategis tersebut. Bahkan, katanya, ini sudah menjadi perhatian Dewan Pimpinan Pusat Partai Golkar.

Di sinilah Musda Golkar Jabar menjadi menarik.

Yang tampak di permukaan adalah satu kandidat mengundurkan diri. Tapi di dalamnya, ada perhitungan panjang. Ada upaya meredam gesekan sebelum ia benar-benar menjadi api.

“Ini bukan kalah,” ujar Asep. “Ini kesepakatan.” Kalimat pendek. Tapi berat.

Sementara itu, ketua terpilih Daniel Mutaqien mengambil posisi yang—dalam bahasa Golkar—disebut akomodatif. Ia ingin menghapus sekat.

Tidak ada lagi kubu. Kalau pertandingan selesai, ya selesai.

Begitulah tradisi yang selalu diulang-ulang di tubuh Golkar. Tradisi yang, entah kenapa, selalu diuji di setiap momentum seperti Musda Golkar Jabar.

Ada satu lagi faktor yang membuat dinamika ini terasa lebih dalam: kedekatan Ahmad Hidayat dengan Dedi Mulyadi.

Kedekatan lama. Emosional. Historis.

Dedi pernah memimpin Golkar Jawa Barat. Ia juga punya andil dalam perjalanan politik Ahmad. Dalam politik, hubungan seperti ini tidak pernah benar-benar hilang.

Justru bisa menjadi jembatan.

Apalagi Golkar juga pernah berada dalam barisan koalisi saat Pilgub. Artinya, komunikasi itu sudah punya fondasi.

Asep melihat ini sebagai keuntungan.

Sekretaris partai yang berkantor di ibu kota provinsi—di Bandung—akan membuat komunikasi dengan pemerintah lebih cair. Lebih sering. Lebih efektif.

Tidak kaku. Tidak berjarak. “Ini justru menguntungkan,” katanya.

Namun, seperti biasa, politik tidak pernah benar-benar selesai di atas kertas.

Sampai hari ini, Asep mengaku belum melihat draf final hasil rapat formatur. Struktur kepengurusan belum benar-benar dikunci.

Artinya, cerita Musda Golkar Jabar belum selesai. Masih ada ruang untuk kejutan.***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here